Warga Singkawang Diimbau Buat Embung

Warga Singkawang Diimbau Buat Embung

BERBAGI
Warga Singkawang Diimbau Buat Embung
Foto : Ilustrasi embung/ beritasatu.com

Singkawang, thetanjungpuratimes.com – Maraknya kebakaran lahan yang terjadi di Singkawang mengharuskan masyarakat setempat untuk membangun embung air atau membuat parit khususnya yang memiliki lahan pertanian atau perkebunan.

“Embung air atau parit ini fungsinya, agar dalam penanggulangan kebakaran lahan dapat diatasi dengan cepat,” kata Camat Singkawang Selatan, Elmin, Selasa.

Adanya embung air atau parit, jelas Elmin, tentunya akan mempermudah untuk mengantisipasi kebakaran lahan. Sehingga, tidak perlu terlalu lama menunggu petugas untuk memadamkannya.

“Tapi pemilik lahan atau warga sekitar untuk terlebih dahulu bisa memadamkannya sebisa mungkin, sambil menunggu pemadam kebakaran datang,” ujarnya.

Untuk itulah, dia mengimbau baik pengusaha maupun petani yang memiliki lahan pertanian dan perkebunan agar membuat semacam kolam atau embung di setiap lahan dan perkebunan mereka masing-masing,” katanya.

Disamping itu, dia juga mengingatkan agar masyarakat tidak membakar lahan dengan sembarangan dan tidak membuang puntung rokok di lahan yang kering.

“Karena cuaca panas seperti ini sangat memungkinkan dapat menimbulkan potensi kebakaran,” tuturnya.

Secara perundang-undangan, katanya, ada sanksi tegas bagi para pemilik lahan yang dengan sengaja membakar lahan.

“Jadi sudah jelas imbauan dan pemberitahuan sanksi bagi pembakar lahan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Singkawang, Burhanuddin mengatakan, sedikitnya ada sekitar 9 hektar lahan yang terbakar di kota itu sepanjang Januari sampai April 2016.

Sembilan hektar itu, katanya, empat hektar merupakan lahan perkebunan dan lima hektar merupakan lahan terlantar.

Kebakaran itu meliputi, lanjutnya, pasir panjang 3 hektar, Sagatani 2 hektar, Kelurahan Naram 2 hektar, Setapuk 1 hektar, dan Nyarumkop 1 hektar. (Antara/Yuniar)

TIDAK ADA KOMENTAR