Melestarikan Bahasa Daerah dengan Mesin Penerjemah

Melestarikan Bahasa Daerah dengan Mesin Penerjemah

1313
BERBAGI
Dr Herry Sujaini, ST MT. Kepala UPT Teknologi Informasi dan Komunikasi Untan founder mesin penerjemah bahasa nusantara
Foto : Dr Herry Sujaini, ST MT. Kepala UPT Teknologi Informasi dan Komunikasi Untan/Syafarudin Ariansyah

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Dari beberapa penelitian yang dilakukan, diperkirakan hanya separuh dari seluruh bahasa yang dituturkan oleh manusia dunia sekarang ini yang masih akan eksis pada tahun 2100 nanti. National geographic bahkan merinci lebih jelas bahwa satu bahasa punah setiap 14 hari dan sebelum berganti abad dunia akan kehilangan separuh dari sekitar 7.000 bahasa ibu yang masih ada di bumi saat ini. UNESCO yang memiliki kekhawatiran sama juga memperkirakan sekitar 3000 bahasa akan punah di akhir abad ini.

Menurut Riza H. (2008), jumlah bahasa daerah di Indonesia mencapai 742 ragam yang menempatkan Indonesia pada urutan ke-2 sedunia sebagai laboratorium keanekaragaman bahasa setelah Papua Nugini yang memiliki 867 ragam bahasa.

Menurut Darwis, M (2011), di Kalimantan, satu bahasa terancam punah dari lebih 50 bahasa daerah yang digunakan disana. Dari 13 bahasa daerah yang ada di Sumatera, dua diantaranya terancam punah dan satu lainnya sudah punah.

Namun, di Jawa tidak ada bahasa daerah yang terancam punah. Adapun di Sulawesi, dari 110 bahasa yang ada, 36 bahasa terancam punah dan 1 sudah punah, di Maluku, dari 80 bahasa yang ada 22 terancam punah dan 11 sudah punah, di daerah Timor, Flores, Bima dan Sumba 8 bahasa terancam punah dari 50 bahasa yang ada.

Di daerah Papua dan Halmahera dari 271 bahasa, 56 bahasa terancam punah. Dikatakan lebih lanjut, bahwa 9 bahasa dinyatakan telah punah di tanah Papua. 208 bahasa terancam punah dan 32 bahasa segera punah.

Penggunaan bahasa daerah di masyarakat sudah mulai berkurang dan mengalami perubahan akibat kemajuan dan perkembangan teknologi. Seiring dengan hal tersebut, penutur bahasa daerah semakin sedikit sehingga dikhawatirkan punahnya bahasa daerah. Berbagai cara dilakukan untuk mencegah kepunahan bahasa daerah, dari mulai memasukkannya ke dalam kurikulum sekolah, mengadakan seminar-seminar bahasa daerah, membuat dokumen-dokumen dalam bahasa daerah dan lain-lain.

Salahsatu cara yang belum banyak ditempuh adalah dengan membangun mesin penerjemah. Mesin penerjemah (MP) merupakanmesin yang dapat melakukan penerjemahan dari suatu bahasa ke bahasa yang lain secara otomatis. MP memiliki kegunaan praktis yang jelas, karena dapat membantu manusia untuk berkomunikasi dengan orang lain yang memiliki bahasa yang berbeda. Dalam era globalisasi, masalah ini menjadi lebih penting. MP dapat meningkatkan efisiensi penerjemahan manual oleh manusia yang memiliki sumber daya terbatas dan mahal.

Selain itu, modalitas komunikasi telah menjadi semakin bervariasi dan instan. Email, sms, bbm, media sosial online dan konferensi video merupakan bagian integral dari masyarakat informasi sekarang ini. Mesin terjemahan menawarkan respon langsung dan segera yang akan sulit untuk ditangani oleh penerjemahan manusia.

Meskipun saat ini sudah ada beberapa mesin penerjemah bahasa daerah yang tersedia secara daring, tapi hanya sebatas bahasa tertentu saja, perlu dibangun sebuah sistem penerjemah yang mampu mengakomodir semua bahasa daerah di Indonesia.

Sudah saatnya untuk mewujudkan translator bahasa Indonesia ke bahasa daerah di nusantara tercinta ini, karena dengan teknologi yang ada saat ini, apalagi melihat pertumbuhan teknologi informasi yang begitu pesat, persatuan dan kesatuan bangsa dapat lebih diperkuat dengan memanfaatkan teknologi tersebut.

Untuk mewujudkan hal tersebut, perlu adanya kerjasama antara para ilmuwan, pemerintah, dan elemen masyarakat secara menyeluruh. Dokumen-dokumen dua bahasa antar bahasa daerah mungkin banyak terarsip rapi di lembaga-lembaga bahasa, andaikan saja ada usaha mengkonversi dokumen-dokumen tersebut menjadi korpus paralel sebagai data dasar mesin penerjemah, bukan tidak mungkin sebuah translator antar bahasa daerah di Indonesia akan segera terwujud layaknya google translator untuk bahasa-bahasa dunia.

(Muhammad)

Dr Herry Sujaini, ST MT

Penulis adalah dosen dan peneliti di Prodi Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura, Kepala UPT Teknologi Informasi dan Komunikasi Untan, dan founder mesin penerjemah bahasa nusantara (http://nustor.untan.ac.id).

TIDAK ADA KOMENTAR