Cita-Cita Demokrasi Digital

Cita-Cita Demokrasi Digital

445
BERBAGI
Ireng Maulana, Pengajar Fisipol Untan
Foto : Ireng Maulana, Pengajar Fisipol Untan/Dokumen

Cita-Cita Demokrasi Digital Dimulai dari Parpol di Daerah yang Melek Teknologi Informasi

Pontianak, thetanjungpuratimes.com-Kenyataannya adalah mungkin banyak diantara kita yang merasakan bahwa praktek demokrasi akan berubah karena penggunaan teknologi informasi. Dalam jangka panjang kita tidak tahu apakah perubahan akan menjadi lebih baik atau lebih buruk, tapi kita tidak boleh berhenti untuk memikirkan cara supaya mendapatkan keuntungan dari perkembangan zaman.

Kita harus terlibat dalam proses perubahan. Semua dari kita memiliki definisi dan pengalaman demokrasi yang berbeda. Dalam pandangan demokrasi digital, sistem pembuatan keputusan dan interaksi publik dengan pemangku kepentingan sudah tidak lagi dihambat oleh bentang kekuasaan (power distance) karena proses informasi memangkas  tradisi formalitas yang memerlukan tahapan dan waktu.

Singkatnya; komunikasi, konsultasi dan partisipasi publik bahkan keterwakilan dalam pembuatan keputusan ditopang oleh saluran digital.

Tulisan ini fokus pada kesadaran partai politik di daerah untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam mengelola anggotanya, sebelum pemanfaaatan teknologi informasi yang lebih “maju”. Kita semua tahu, anggota adalah modal dasar untuk memajukan partai politik, karena eksistensi anggota menyangkut sumber daya yang berhubungan dengan relasi, gagasan, atau kepemimpinan.

Pengelolaan anggotanya oleh partai politik menjadi semakin krusial karena munculnya tren kelompok non partisan yang tidak menjadi anggota partai politik atau tidak mengikatkan diri secara ideologis dengan partai politik tertentu. Magnet bagi kelompok non partisipan kepada partai politik hanya bertaut pada kapasitas orang atau program kerja yang dimiliki oleh partai politik. Kelompok ini hanya menunggu jikalau partai politik dapat memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi publik.

Sekiranya, tren kelompok non partisipan ini tumbuh secara signifikan, maka berdampak kepada sulitnya partai politik untuk dapat merekrut anggota yang potensial. Rasa-rasanya, defisit anggota bagi partai politik tidak perlu terjadi.

Mas Wigrantoro (n.d) pernah menyebutkan dalam konteks yang positif dan sejalan dengan upaya mewujudkan cita – cita partai politik, Teknologi Informasi  setidaknya dapat menawarkan manfaat untuk :

  1. Memberikan dukungan   manajemen   pengelolaan   organisasi   partai   berupa penyediaan basis data (database)  keanggotaan, koordinasi pusat-daerah, pembinaan kader, pengelolaan sumber daya (keuangan, aset, SDM, dan lain – lain), serta tersedianya Sistem Informasi Eksekutif bagi pembuatan keputusan oleh jajaran Pimpinan.
  2. Menjadi sarana yang efektif dan efisien di dalam upaya komunikasi dan penyebaran informasi dari pusat ke daerah, atau sebaliknya; media interaksi antara pengurus, kader, dan anggota; serta sarana kampanye yang murah dan mampu menjangkau seluruh wilayah konstituen.

Kita dapat melihat bahwa pengelolaan anggota partai politik melalui berkah teknologi informasi meliputi managemen anggota, pola komunikasi, dan pembinaannya.  Sebagian Partai Politik di tingkat nasional barangkali sudah mulai memanfaatkan teknologi informasi untuk kepentingan pengeloaan sumber daya manusianya. Maka dari itu, contoh kecil seperti ini sudah harus diikuti oleh Partai Politik di daerah, karena modal besar keanggotaan memang berasal dari daerah.

Secara mendasar pengelolaan anggota partai politik di daerah melalui teknologi informasi meliputi beberapa aspek, yakni :

  • Perekrutan anggota baru
  • Pelayanan terhadap anggota baru dan anggota lama
  • Pembinaan dan pendidikan semua anggota terkait program peningkatan kapasitas
  • Informasi kegiatan parpol yang dimotori oleh anggota
  • Komunikasi antara sesama anggota dan antara anggota pengurus

Maka jika kita aplikasikan kedalam sebuah sistem pengelolaan anggota berbasis teknologi informasi, partai politik di daerah akan membangun model sebagai berikut ;

  • Sistem informasi pendaftaran anggota baru
  • Sistem informasi layanan anggota
  • Sistem informasi pembinaan dan pendidikan anggota
  • Sistem informasi kegiatan anggota
  • Sistem komunikasi antara anggota dan pengurus

Gambar 1. Aplikasi sistem informasi pengelolaan anggota parpol di daerah :

ireng maulana_data

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebelum merebut kepercayaan publik untuk mendukung partai politik, maka yang harus terlebih dahulu dilakukan adalah dengan memperhatikan anggota sebagai garda terdepan memperjuangkan partai politik di tengah pesatnya kemajuan teknologi informasi.

Kesejangan pengalaman memanfaatkan teknologi informasi bagi anggota partai politik merupakan tantangan tersendiri bagi partai politik.

Banyak data menyebutkan bahwa pada 2019 Indonesia akan menikmati bonus demografi dimana penduduk usia muda berusia antara 15 tahun hingga 40 tahun akan lebih mendominasi, atau 45% dari jumlah warga negara. Dengan rentang usia yang muda itu, potensi anggota yang akan dijaring akan sangat akrab dengan teknologi informasi, baik jejaring sosial maupun situs web dan alat komunikasi berbasi digital lainya.

Dengan demikian, pola komunikasi akan jauh berubah dari era tahun-tahun sebelumnya. Tidak mungkin lagi menarik atensi calon anggota dengan spesifikasi seperti tersebut dengan tidak melibatkan teknologi informasi.

Partai politik harus mampu berkomunikasi dengan masyarakat yang hari ini dengan pola yang berbeda. Dulu komunikasi masih satu arah, sekarang ada jejaring sosial yang bisa langsung memberikan tanggapan atas satu opini. Pola penyebaran informasi yang dulunya dari media arus utama berubah ke media sosial yang tersebar dalam jumlah besar.

Dalam kondisi demikian, parpol harus mampu menangkap aspirasi masyarakat dengan cepat kalau tidak mau ditinggalkan. Artinya, institusi politik harus mampu mengembalikan rasa kepemilikan dari publik dengan cara cepat menyerap kepentingan mereka. Peran ini terletak pada anggota parpol yang akan dapat ditarik dengan cara yang lebih “canggih”. Keterbukaan informasi di kalangan parpol akan menjadi sangat penting, terutama keterbukaan informasi yang dirasakan oleh para anggota parpol terhadap semua hal yang menyangkut partai mereka. Pada upaya yang lebih maju lagi, keterbukaan dalam penganggaran partai politik termasuk pendanaan kampanyenya sangat berarti besar bagi anggota parpol. Keterbukaan ini akan semakin menumbuhkan tingkat kepercayaan dan berdampak kepada peran dan partisipasi aktif anggota dalam memajukan parpol masing-masing, misalkan dalam upaya penggalangan dana bagi partai politik.

Namun, Mas Wigrantoro (n.d) mengingatkan, walaupun sudah banyak pimpinan partai politik yang mengetahui atau setidaknya secara pesonal sudah memanfaatkan keunggulan teknologi informasi untuk kepentingan pencitraan. Kendala besar yang menghambat implementasi Teknologi Informasi di kalangan partai politik adalah persiapan mereka secara kelembagaan untuk implementasi gagasan ini. Hambatan yang dikemukakan antara lain :

  • Masih banyak pemimpin partai yang tidak akrab dengan teknologi informasi khususnya di daerah. Hal  ini  dapat  dimengerti, karena  mereka  berasal  dari generasi masa lalu yang tumbuh ketika Internet belum menjadi bagian dari gaya hidup. Hambatan ini lebih berasal kepada alasan pemanfaatan personal para pemimpin parpol.
  • Masih banyak pemimpin parpol di daerah yang sama sekali tidak memahami paradigma pentingnya pembangunan teknologi informasi untuk kepentingan kemajuan parpol yang mereka pimpin di daerah, sehingga mereka masih lebih memilih cara-cara konvensional. Hambatan ini lebih bersifat paradigmatik dan komitmen.
  • Hambatan lain  yang bersifat teknis dan faktor infrastruktur, seperti langkanya SDM yang mumpuni di bidang TI di kepengurusan partai politik, atau keterbatasan dana untuk membangun sistem teknologi informasi bagi partai politik.

Sebagai penutup, strategi implementasi teknologi informasi dan komunikasi pada tubuh partai politik di daerah antara lain :

  • Membangun Komitmen pemimpin parpol di daerah terhadap pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunika Peran pemimpin parpol di daerah sangat   penting  dalam menumbuhkembangkan kesadaran dan menunjukkan komitmen terhadap pemanfaatan teknologi informasi bagi kepentingan parpol
  • Pendekatan dimulai dari anggota parpol. Memperkenalkan teknologi informasi dan komunikasi kepada anggota parpol di daerah sangatlah pentin Peran anggota dapat dimanfaatkan untuk mengajak dan membimbing publik lebih mengenal dan mendukung parpol bersangkutan
  • Membangun sistem informasi dan komunikasi yang relevan dengan karakteristik dan potensi sumber daya yang terdapat di daerah Parpol berada
  • Membangun kemitraan dengan Industri dan jasa Telekomunikasi

Oleh : Ireng Maulana *

*Pemerhati Parpol di Daerah dan Pengajar di Fisipol Universitas Tanjungpura

** Referensi

Tulisan disusun berdasarkan banyak sumber, baik dari media online maupun bahan bacaan cetak.

(Muhammad)

TIDAK ADA KOMENTAR