Pemerintah Masih Kaji Aturan Pelaksanaan Perppu Kebiri

Pemerintah Masih Kaji Aturan Pelaksanaan Perppu Kebiri

87
BERBAGI
Foto : Ilustrasi kebiri/net

Mataram, thetanjungpuratimes.com – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan kebudayaan Puan Maharani menyatakan pemerintah masih mengkaji aturan pelaksana Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Peraturan pemerintah sebagai turunan masih dalam kajian. Yang pasti dengan Perppu, pelaku kejahatan seksual terhadap anak bisa mendapatkan pemberatan hukuman,” kata Puan di sela-sela Peringatan Hari Anak Nasional 2016 di Taman Sangkareang, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (23/7).

Puan mengatakan pemberian pemberatan hukuman itu melalui proses penegakan hukum sejak penyelidikan oleh kepolisian hingga penjatuhan vonis hukuman oleh pengadilan. Pengadilan pula yang memutuskan apakah pelaku kejahatan seksual terhadap anak dijatuhi pemberatan hukuman atau tidak.

“Pemberatan hukuman dijalani setelah pelaku menjalani hukuman pokok. Maksimal dua tahun dan dalam pendampingan,” tuturnya.

Terkait dengan penolakan kalangan dokter untuk melaksanakan hukuman kebiri dengan alasan bertentangan dengan Kode Etik Kedokteran, Puan menyatakan hal itu sedang didalami oleh Kementerian Kesehatan.

“Kemenkes sedang mendalami siapa yang menjadi eksekutor tanpa ada aturan atau mekanisme yang dilanggar. Pemberatan hukuman itu harus dilakukan karena kejahatan terhadap anak-anak saat ini sudah di luar batas kewajaran,” katanya.

Pemerintah telah menerbitkan Perppu Nomor 1 Tahun 2016 yang dikenal sebagai Perppu “Kebiri”. Perppu tersebut mengatur pemberatan hukuman bagi pelaku kejahatan seksual.

Wacana pemberatan hukuman bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak, yang seringkali disebut sebagai predator, antara lain kebiri kimiawi, pemasangan alat pendeteksi elektronik, hukuman penjara seumur hidup hingga hukuman mati.

(Ant/Dd)

TIDAK ADA KOMENTAR