Kalbar “Surganya” Pekerja Asing

Kalbar “Surganya” Pekerja Asing

199
BERBAGI
Ilustrasi Pekerja Asing
Foto : Ilustrasi Pekerja Asing/tajuk.co

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Sejak masuknya investasi negara asing di wilayah Provinsi Kalimantan Barat, Tenaga Kerja Asing (TKA) mulai membanjiri bumi Khatulistiwa. Khusus enam wilayah kerja di bawah kantor Imigrasi Pontianak, yakni Landak Mempawah, Kubu Raya, Kota Pontianak, Kayong Utara dan Ketapang, tercatat wilayah Ketapang memiliki jumlah TKA yang paling banyak.

“Berdasarkan database kita, jumlah TKA yang ada di Kabupaten Ketapang sebanyak 465 orang. Dari jumlah tersebut, terbanyak berasal dari Tiongkok yang bekerja di sektor pertambangan,” ungkap Kepala Seksi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas 1 Pontianak, Prayitno.

Jumlah tenaga kerja asing di Kalbar sendiri terbanyak bekerja di Kabupaten Ketapang. Kepala Dinas Sosial Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Kabupaten Ketapang, Mad Noor, mengatakan, jumlah Tenaga Kerja Asing (TKA) di Ketapang hinggga bulan Juli 2016, sebanyak 451 orang, yang tersebar di beberapa perusahaan pertambangan dan perkebunan. Sebelumnya, pada tahun 2015, jumlah TKA di Ketapang sebanyak 558 orang.

“Saat ini menjadi penyumbang TKA terbesar di Kalbar adalah PT WHW (Well Harvest Winning), dengan jumlah 426 orang. Secara prosedural kita tetap melaporkan data tersebut ke provinsi, bupati, DPRD dan instansi terkait,” ungkapnya.

Mad Noor menjelaskan, sejauh ini sudah sering melakukan sosialisasi dan pembinaan. Belum ditemukan TKA yang tidak memiliki Izin Mempekerjakan Tenaga Asing (IMTA).

Sebelumnya, Kantor Imigrasi Kelas I Pontianak, mengamankan sebanyak delapan warga negara asing asal Republik Rakyat China (RRC) yang bekerja di sebuah sawmil secara illegal, di Kabupaten Kubu Raya, beberapa waktu lalu.

“WNA asing tersebut hanya memiliki visa on arrival (VOA) yang hanya bisa digunakan untuk tujuan wisata bukan untuk bekerja,” kata Kepala Imigrasi Kelas I A Pontianak, Matt Salim di Pontianak, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, perusahaan tersebut bergerak di bidang perkayuan atau sawmil yang mempekerjakan tenaga kerja asing secara illegal. Dari delapan WNA asal RRC itu, satu diantaranya perempuan, dan mereka hanya memiliki paspor tanpa dokumen lainnya.

“Harusnya pihak perusahaan ketika memperkerjakan tenaga kerja asing, harus memiliki surat dari Kementerian Ketenagakerjaan atau dinas tenaga kerja setempat,” ungkapnya.

TIDAK ADA KOMENTAR