Jangan Anggap Sepele Denyut Jantung Tak Teratur

Jangan Anggap Sepele Denyut Jantung Tak Teratur

111
BERBAGI
Pola Hidup Buruk Pengaruhi Jantung
Foto : Ilustrasi Jantung/hariansehat.com

Jakarta, thetanjungpuratimes.com-Setiap saat jantung terus berdenyut untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Jantung berdenyut karena adanya aliran listrik yang bersumber dari satu ‘generator’ dan mengalir hingga sampai ke bilik jantung.

Pada kondisi tertentu jantung berdenyut lebih kencang, seperti usai beraktivitas berat atau ketakutan. Jika ini terjadi, maka tergolong normal.

Namun, jika denyut berdebar kencang tanpa pemicu, maka jangan anggap enteng. Pasalnya menurut dokter spesialis jantung pembuluh darah Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, dr Yoga Yuniadi, denyut jantung tak teratur bisa merupakan gejala Fibrilasi Atrium atau gangguan irama jantung.

“Fibrilasi atrium terjadi karena banyak sumber listrik yang saling berkompetisi, sehingga menyebabkan darah menjadi berputar-putar dan pasien merasakan denyut yang tidak beraturan, nyeri dada, sesak napas, kelelahan dan tidak mampu berolahraga,” ujar Yoga pada temu media di RS Jantung Harapan Kita, Jakarta, Senin (25/7/2016).

Fibrilasi atrium, lanjut dia, bisa berbahaya karena memicu gumpalan darah yang umumnya tersangkut di otak sehingga meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat.

“Stroke memang tidak hanya disebabkan oleh gangguan irama jantung, tapi faktor yang menyertainya, seperti ada tidaknya kondisi gagal jantung, hipertensi, diabetes, riwayat stroke, usia lanjut. Tapi jika seseorang mengidap fibrilasi atrium, risiko mengalami stroke semakin cepat, misalnya hari ini didiagnosis FA, besoknya kena stroke, beda dengan hipertensi atau diabetes yang mungkin baru memicu stroke 5 tahun kemudian,” tambahnya.

Angka kejadian fibrilasi atrium di Indonesia, lanjut Yoga, mencapai 0,4-1 persen dari seluruh populasi. Semakin bertambah usia maka risiko mengidap gangguan irama jantung semakin tinggi. Fibrilasi atrium sendiri, kata dia, bisa timbul karena dipicu penyakit tertentu ataupun tanpa sebab.

“Kalau yang tanpa sebab ini biasanya memang khas. Pasien tidak mengalami kelainan struktural di jantung, tidak ada hipertensi atau faktor risiko lainnya tapi denyut jantung tidak teratur. Biasanya yang tanpa sebab ini muncul pada usia muda, dibawah 20 tahun juga bisa,” lanjut dia.

Sedangkan gangguan irama jantung sekunder, muncul karena adanya penyakit penyerta. Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko tertinggi yakni 3-5 kali lipat untuk gangguan irama jantung. Bahkan dokter Yoga menyebut 20-40 persen penderita hipertensi memiliki peluang tinggi mengidap fibrilasi atrium ini.

“Penyakit lainnya yang memicu gangguan irama jantung antara lain diabetes, peningkatan hormon tiroid, obesitas, dan penyakit jantung koroner,” pungkasnya.

(suara.com/Muhammad)

TIDAK ADA KOMENTAR