Jeruk Masih Jadi Andalan Masyarakat Sambas

Jeruk Masih Jadi Andalan Masyarakat Sambas

252
BERBAGI
Sambas Ditetapkan Sebagai Kawasan Jeruk
Foto : kawasan jeruk di Kabupaten Sambas/ Gindra

Sambas, thetanjungpuratimes.com – Tanaman jeruk siam yang banyak terdapat di kabupaten Sambas masih jadi komoditi andalan bagi petani untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Salah satunya adalah M Ali, petani Jeruk desa Sungai Kelambu, kecamatan Tebas. Dikatakan olehnya walaupun pohon jeruk yang ia tanam hanya sebanyak 100 pohon, namun hasilnya dirasakan sangat membantu dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

“Tanaman jeruk merupakan sumber penghasilan saya selain padi, dan akan tetap dipelihara walau sekarang harga jualnya agak turun harganya dari sebelumnya,” kata M Ali, ketika ditemui, ┬áKamis (4/8).

Ia megungkapkan jika saat ini dirinya sudah menanam jeruk untuk yang ketiga kalinya, setelah dua kali sebelumnya jeruk yang ia tanam mati akibat terserang virus CVPD.

“Untuk sekarang umur tanaman jeruk baru mencapai 4 tahun, Sebelum ditanami jeruk kembali terlebih dahulu ditanami padi, akan tetapi hasil dari padi tidak sama dengan hasil tanaman jeruk. Sehingga lahan yang ada kembali saya tanami jeruk,” jelasnya.

Perbedaan menanam jeruk dan padi menurut M Ali juga ia rasakan. Padi perawatannya harus rutin, setiap hari harus didatangi, sementara kalau jeruk perawatan berkala dan dapat disesuaikan. Sedangkan dari penghasilan, yang dirasakan lebih besar pendapatan dari jeruk.

Pilihan untuk menanam jeruk juga dilakukan oleh Usni warga desa Tebing Batu kecamatan Sebawi, tanaman jeruk menurut Usni lebih menguntungkan dari tanaman yang lain seperti karet dan padi.

“Kami disini menanam jeruk dan karet, akan tetapi harga karet saat ini sangat turun drastis. Walaupun harga jeruk turun dari sebelumnya namun merupakan sumber pendapatan kami yang utama,” katanya.

Dikemukakan oleh Usni, tanaman jeruk masih dapat diandalkan dibandingkan dengan karet.

“Harga karet saat ini Rp6 ribu per kilonya, satu hari jika menghasilkan 5 kg karet baru menghasilkan Rp30 ribu. Penghasilan seperti itu dinilai masih belum dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, itu pun jika bisa mencapai 5 kilogram. Jika kurang dari lima kilo pasti penghasilan tidak mencapai Rp30 ribu,” terang Usni.

Hanya saja Usni mengeluhkan saat ini harga jeruk yang dibeli oleh pengumpul juga mengalami penurunan harga,. Harga dibeli oleh agen (pengepul) saat ini untuk ukuran buah jeruk yang AB dibeli dengan harga Rp 4500, mengalami penurunan dari sebelumnya. Namun terkadang penurunan harga tidak terlalu lama. Terkait masalah harga jeruk yang turun naik dirinya tidak terlalu mempersoalkan.

“Yang penting ada yang membeli buah jeruk kami, mengenai harga kami petani tentu berharap harga yang dibeli dari kami lebih tinggi,” pintanya.

Mengenai harga yang tidak tetap tersebut, diungkapkan oleh Lobang, pemilik agen jeruk di desa Tebing Batu. Hal itu lantaran ditentukan oleh beberapa hal.

“Salah satunya karena buah jeruk di pasaran Pontianak atau Jakarta sedang penuh, sehingga jeruk dari Sambas kurang mampu bersaing, masalah lain juga terkadang kapal pengangkut jeruk ke Jakarta atau daerah lain tidak dapat berlayar akibat cuaca yang menyebabkan gelombang tinggi. Sehingga kapal tidak dapat berlayar,” terang Lobang.

Namun begitu Lobang mengatakan harga jeruk yang ia beli seharga Rp4500 dinilai cukup baik.

“Harga yang kita beli Rp 4500 memang harga paling rendah dan paling tinggi Rp12 ribu,” ungkapnya.

(Gindra/dd)

TIDAK ADA KOMENTAR