Hakim Cecar Sejumlah Pertanyaan ke Tetangga Petrus Bakus

Hakim Cecar Sejumlah Pertanyaan ke Tetangga Petrus Bakus

149
BERBAGI
Foto: Saksi saat persidangan Petrus Bakus yang digelar di Pengadilan negeri Sintang/Ling

Sintang, thetanjungpuratimes.com – Saksi yang pertama dihadirkan dalam sidang kasus mutilasi anak kandung oleh anggota Polres Melawi brigadir Petrus Bakus adalah Sukardi.

Sukardi adalah anggota Intel Polres Melawi yang juga merupakan tetangga sebelah rumah terdakwa, di komplek asrama Mapolres Melawi, Gang Darul Falah, Desa Paal, Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi.

Persidangan yang dipimpin langsung oleh Hakim Ketua, Edy Alex Serayok langsung mencecar sejumlah pertanyaan kepada Sukardi terutama kronologis pertama kalinya dia mengetahui kejadian pembunuhan dan mutilasi anak kandungnya yang dilakukan oleh terdakwa petrus bakus.

Dalam persidangan, Sukardi menjelaskan kronologis kejadian.  Ia mengaku saat itu sudah tidur dan tiba-tiba mendengar teriakan suara perempuan minta tolong dari luar.

“Saya terbangun karena mendengar teriakan dari luar. Saya pun membuka pintu dan ternyata istri terdakwa sudah berada di depan pintu dan langsung masuk ke dalam. Saya pun keluar sementara istri terdakwa di dalam dan saya minta istri saya meminta agar pintu dikunci dari dalam,” ucap Sukadri.

“Saat di luar saya sudah melihat terdakwa duduk di teras rumah mengenakan sweater dan handuk yang sudah banyak percikan darah. Saya kemudian bertanya kepada terdakwa, apa masalah yang terjadi. kemudian terdakwa menjawab jika dua anaknya sudah dibersihkan sesuai dengan “perintah Tuhan”. Atas apa yang disampaikan terdakwa, saya tidak paham sehingga saya langsung menghubungi Kasat Intel Polres Melawi yang juga berdomisili tidak jauh dari tempat kejadian perkara karena masih dalam satu komplek asrama,” jelas Sukardi ke majelis Hakim.

Setelah mengetahui apa yang telah dilakukan oleh terdakwa, Sukardi mengaku langsung membawa terdakwa bersama Kasat Intel ke masjid.

“Setelah di masjid, Kasat intel memerintahkan saya untuk melihat lokasi kejadian di dalam rumah terdakwa, tapi saya tidak berani masuk ke dalam sehingga saya hanya mengintip dari jendela kaca kamar. Disana saya melihat ada dua tubuh tengkurap di atas kasur beserta potongan-potongan tangan dan kaki,” ujar dia.

Dalam kesempatan tersebut,  Sukardi juga mengaku terdakwa pernah curhat kepadanya terkait dengan kehidupan rumah tangganya yang kurang harmonis, setelah istrinya pulang dari Jawa.

Sementara,  saksi kedua atas nama Taufik, yang juga merupakan anggota Sat Lantas Polres Melawi dalam keteranganya menyampaikan bahwa pertama dirinya mengetahui adanya kejadian pembunuhan dan mutilasi anak kandung yang dilakukan oleh terdakwa setelah mendapat informasi dari keluarga terdekat.

“Sebelum kejadian ketika saya hendak berangkat ke kantor, saya sempat melihat terdakwa bersama kedua anaknya di luar rumah. Saya sempat bertanya kepada terdakwa, ada apa masih di luar sudah tengah malam bersama kedua anakmu. Dia pun menjawab tidak ada apa-apa,” kata Taufik kepada majelis hakim.

Menurut keterangan yang disampaikan Taufik(saksi II) bahwa terdakwa selama bertugas di Polres Melawi tidak ada melihat adanya kelainan maupun menunjukkan sikap aneh terhadap terdakwa dan saksi mengaku mengenal baik dengan terdakwa.

“Bahkan selama bertugas terdakwa tidak pernah mengabaikan tugas yang diberikan oleh atasannya,” kata dia.

Hakim juga mencecar sejumlah pertanyaan terhadap kedua saksi terkait dengan proses rekrutmen menjadi anggota Polisi, bahkan juga mempertanyakan tes psikologi secara berkala di kepolisian kedua saksi pun menjawab tetap dilakukan sedikitnya sekali setahun.

Namun, dalam proses tes Psikologi tersebut tidak pernah ada pendamping dari pihak psikiater dalam proses tes psikologi.

Sidang akan kembali dilanjutkan dengan agenda yang sama.

(Lingg/dd)

 

 

TIDAK ADA KOMENTAR