Pemkot Pontianak Bakal Larang Kendaraan Besar “Mangkal” Dalam Kota

Pemkot Pontianak Bakal Larang Kendaraan Besar “Mangkal” Dalam Kota

135
BERBAGI
Sambas Belum Miliki Jembatan Timbang
Foto : Ilustrasi/Gindra

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Per 1 Januari 2017 mendatang, Pemerintah Kota Pontianak akan mengeluarkan aturan pelarangan pangkalan kendaraan bertonase besar di dalam kota.

Wali Kota Pontianak, Sutarmidji menerangkan kendaraan besar seperti truk kontainer dan truk fuso, pangkalannya harus di luar, di dalam kota aktivitas angkutannya saja yang diperbolehkan.

“Mulai 1 Januari tidak boleh ada pangkalan truk tronton, truk fuso, di dalam kota. Semuanya harus di luar kota. Terserah mau di mana. Aktivitas kalau angkutan boleh, dengan diatur jam-jam tertentu,” ujar Sutarmidji, Jumat (5/8).

Sutarmidji kesal lantaran banyak kendaraan bertonase besar yang parkir di dalam kota. Ditambah, sebagian besar kendaraan itu tidak mematuhi aturan yang sudah dibuat. Di mana jam operasional mereka hanya boleh di malam hari.

Kepala daerah dua periode itu mencontohkan, seringkali truk tronton yang membawa alat berat, keluar sebelum jam 9 malam. Padahal dalam aturannya mereka hanya boleh beroperasi di atas jam tersebut. Pelanggaran jam operasi itu menurutnya membahayakan orang lain.

“Itu kan kasian orang, bahaya. Nah kalau malam jam 9-10 kan sudah mulai sepi. Kadang asosiasinya pun susah juga. Pandai urus organisasi, urus anggota tidak,” kesalnya.

Secara tegas pihaknya selama ini sudah melakukan penertiban dengan melakukan tilang. Kendaraan besar yang parkir sembarangan pun, bannya akan dikempeskan. Tak peduli pemiliknya marah atau tidak. Sutarmidji mengingatkan, tahun penegakan hukum 2016 Kota Pontianak ini, bukan sekadar omong kosong.

“Semua sekarang kita tilang. Semua sudah ada aturannya. Jalan kita itu tidak ada yang kelas 1, jadi tronton 40 feet itu tidak layak keluar dari pelabuhan, truk dengan ukuran 6 meter ke atas pun demikian. Karena memang kekuatan daya dukung jalan tidak mungkin,” terangnya.

Apalagi menurutnya, jika melihat tindak-tanduk truk fuso yang kerap bongkar muat bawaan secara serampangan. Tak peduli lokasi. Misalnya saja di kawasan dekat Kapuas Palace, Pal V dan Jalan Nirbaya.

“Saya minta dikandangkan saja sampai dua-tiga bulan. Sama dengan yang punya tronton dan konteiner. Berapa banyak sudah jatuh korban, jangan cuma pandai protes kalau kita larang. Coba dia lihat data berapa korban jatuh akibat kendaraan mereka. Memang perlu korban lebih banyak?” pungkasnya.

(Agustiandi/dd)

TIDAK ADA KOMENTAR