Tinjau Rumah Sakit Kota, Menkes Lontarkan Pujian ke Sutarmidji

Tinjau Rumah Sakit Kota, Menkes Lontarkan Pujian ke Sutarmidji

123
BERBAGI
Foto: Menkes Nila Farid Moeloek dan Wali Kota Sutarmdiji saat meninjau rumah sakit kota Pontianak/agus

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek mengapresiasi adanya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Syarif Mohammad Alkadrie Kota Pontianak.

Kebijakan Wali Kota Pontianak, Sutarmidji mendirikan rumah sakit ini dinilainya sebagai inovasi yang bagus. Ia juga memuji Sutarmidji yang mendirikan rumah sakit tidak tepat berada di tengah kota, melainkan di pinggiran kota.

“Saya apresiasi sekali, beliau tidak membuat di tengah kota, tapi agak ke pinggir dengan maksud daerah-daerah sekitar ini juga bisa menikmati layanan rumah sakit di sini,” ujarnya usai meninjau RSUD SSMA, Kamis (4/8).

Dari sisi lain, Nila menilai perencanaan rumah sakit ini termasuk baik, sumber daya manusia dan tenaga medisnya juga sudah memadai. Pihaknya akan mengupayakan RSUD ini sebagai rumah sakit regional sehingga bisa mendapat bantuan dari pemerintah pusat.

“Baik itu bantuan peralatan kesehatan maupun bantuan lainnya,” ungkapnya.

Senada dengan Menkes, Wali Kota Pontianak, Sutarmidji mengatakan, rumah sakit ini akan ditingkatkan menjadi rumah sakit rujukan regional sehingga harus ditingkatkan menjadi tipe B. Saat ini, Pemerintah Kota Pontianak tengah menyelesaikan pembangunan gedung instalasi rawat inap yang terletak di belakang gedung rumah sakit.

“Bangunan di belakang akhir tahun ini selesai. Kalau itu selesai, Insya Allah kita akan lengkapi semuanya termasuk peralatan,” tutunya.

Sutarmidji menambahkan, yang perlu ditingkatkan dari rumah sakit yang masuk dalam Top 35 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2016 se-Indonesia ini adalah peralatan medis. Bahkan, menurutnya, peralatan medis tersebut lebih mahal dibandingkan dengan nilai bangunan rumah sakit.

Midji membeberkan untuk bangunan gedung hanya senilai Rp43 miliar, sedangkan biaya untuk membeli peralatan medis bisa mencapai Rp150 miliar hingga Rp200 miliar, itu pun belum tentu terpenuhi seluruhnya. Sebut saja, untuk sebuah alat CT Scan, yakni sebuah alat pemindai berbentuk lingkaran yang besar, cukup untuk dimasuki orang dewasa dengan posisi berbaring untuk mendiagnosis dan memonitor beragam kondisi kesehatan, dengan jumlah 120-an slices, harganya bisa di atas Rp 15 miliar hingga Rp 20 miliar. Untuk itu, pihaknya akan menjalin kerja sama dengan pihak ketiga dalam bentuk Kerja Sama Operasional (KSO).

“Sehingga kita akan banyak bekerja sama dengan pihak ketiga seperti alat hemodialisa atau alat cuci darah dan sebagainya, sepanjang tarifnya tidak melebihi tarif yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan,” ucapnya.

Terkait tenaga medis, Sutarmidji mengklaim sudah memadai. Sebab ada beberapa tenaga dokter yang telah menyelesaikan pendidikan spesialisasi dan akan kembali untuk mengabdi di rumah sakit tersebut.

“Karena jauh sebelumnya, semasa saya menjabat sebagai Wakil Wali Kota, saya sudah dorong mereka untuk mengambil spesialisasi. Saat itu ada 18 tenaga medis, sekarang sudah pada pulang semua dan ada yang melanjutkan. Bahkan kita di sini punya ahli bedah syaraf,” pungkasnya.

(Agus/dd)

TIDAK ADA KOMENTAR