Kemendikbud Menilai Lab SMK Tak Perlu Canggih

Kemendikbud Menilai Lab SMK Tak Perlu Canggih

BERBAGI
Foto: Ilustrasi/net

Jakarta, thetanjungpuratimes.com – Staf Ahli Menteri Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Inovasi dan Daya Saing Ananto Kusuma Seta mengatakan ke depan laboratorium Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tak perlu canggih.

“SMK tidak perlu membuat laboratium canggih-canggih, karena memang sebagian besar guru tidak paham cara pengoperasian alatnya. Anak SMK itu harus lebih banyak di industri,” ujar Ananto dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/10).

Dia menjelaskan dalam waktu dekat anak-anak SMK harus praktik di industri lebih lama dari sekarang. Jika sekarang, persentase praktik di industri hanya 40 persen, maka ke depan akan dibalik menjadi 60 persen.

“Jadi, waktu anak-anak SMK tersebut akan lebih banyak di industri dibandingkan di sekolah. Persentasenya sekitar 60 persen di industri dan 40 persen di sekolah,” katanya.

Hal itu, kata dia, sama seperti anak-anak SMK di Jerman yang mana waktunya lebih banyak dihabiskan di industri. Untuk itu, dia meminta agar perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk membuka diri bagi anak-anak SMK.

“Bisa dibayangkan, misal Bank BNI, Mandiri dan BRI yang merupakan bank milik negara, membuka kesempatan bagi anak-anak SMK untuk praktik mengenai administrasi perbankan dan sebagainya,” kata dia.

Selain itu, tenaga pengajarnya juga akan lebih banyak yang berasal dari dunia industri. Para praktisi yang sudah pensiun dari dunia kerja bisa menjadi tenaga pengajar di SMK.

Kemdikbud juga akan melakukan penataan terhadap SMK yang ada di Tanah Air. Jumlah SMK mencapai 13.650, namun hanya 30 persen dari jumlah tersebut milik pemerintah, sisanya adalah milik swasta.

“SMK milik swasta ini banyak yang kecil-kecil, ini yang perlu kami tata ke depannya,” harap dia.

(Ant/dd)

TIDAK ADA KOMENTAR