BI: Pilpres AS Tak Berdampak pada Nilai Tukar Rupiah

BI: Pilpres AS Tak Berdampak pada Nilai Tukar Rupiah

159
BERBAGI
Penguatan Dolar AS Bikin Kurs Rupiah Melemah
Foto : Kurs rupiah terhadap dolar/ teropongbisnis.com

Jakarta, thetanjungpuratimes.com – Bank Indonesia (BI) memprediksi pelaksanaan pemilu presiden Amerika Serikat tidak berdampak signifikan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Secara keseluruhan memang berdampak pada pasar keuangan global, tetapi dampaknya terhadap Indonesia relatif terjaga. Pasar keuangan kita, khususnya pasar valuta asing relatif stabil,” kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat ditemui di Jakarta, Rabu (9/11).

Meskipun nilai tukar rupiah sempat melemah saat muncul skandal surat elektronik pribadi Hillary Clinton, namun rupiah kembali menguat setelah Biro Investigasi Federal (FBI) menyampaikan pernyataan bahwa tidak ada kasus mengenai surel tersebut.

Situasi serupa, menurut Perry, juga mungkin terjadi setelah presiden AS terpilih, entah itu Clinton atau Donald Trump.

“Ini suatu dinamika yang biasa dalam nilai tukar mata uang. Dalam jangka pendek, nilai tukar selalu merespons perkembangan berita maka akan naik atau turun. Tetapi secara keseluruhan pada akhirnya nilai tukar akan bergerak sesuai fundamentalnya,” kata Perry.

Fundamental ekonomi Indonesia yang kuat ditunjukkan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan turunnya inflasi akan menstabilkan kembali nilai tukar rupiah.

BI terus memantau perkembangan pasar global dan jika terjadi volatilitas atau fluktuasi tingi, maka BI tidak segan-segan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah sesuai kondisi fundamental makro Tanah Air.

“Sejauh ini sebenarnya pasar sudah bisa menyesuaikan keseimbangan. Kami lihat ada fluktuasi tetapi saya kira ini jangka pendek,” kata Perry.

Menurut dia, Indonesia memiliki cadangan devisa besar yang tidak hanya cukup untuk menstabilkan nilai tukar rupiah tetapi juga mengantisipasi berbagai risiko antara lain pembalikan modal asing (capital reversal).

“Cadangan devisa kita lebih dari cukup dengan 115 miliar dolar AS atau 8,5 persen dari impor dan pembayaran hutang luar negeri. Itu jauh mencukupi,” kata dia.

Pemilu Presiden AS berdampak pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terdepresiasi sebesar 114 poin atau 0,87 persen menjadi Rp13.198 pada pukul 11.49 WIB setelah sempat menguat sebesar Rp13.055 pada pembukaan perdagangan hari ini.

Hingga pukul 10.30 WIB, calon presiden AS Donald Trump dari Partai Republik mendominasi Pemilu 2016 dan memimpin baik dalam perolehan suara elektoral untuk pemilihan presiden maupun jumlah kursi untuk kongres.

Trump kini memimpin dengan 150 suara elektoral yang ditandai dengan kecenderungan untuk merebut Ohio dan Florida yang empat tahun lalu memilih Barack Obama dari Partai Demokrat.

Sebaliknya calon presiden dari Partai Demokrat Hillary Clinton baru mendapatkan 109 suara elektoral dengan berisiko kehilangan juga New Hampshire, Wisconsin dan Michigan yang empat tahun lalu memilih Obama.

(Ant/dd)

TIDAK ADA KOMENTAR