BI: Penarikan Uang Swasta Masih Lambat

BI: Penarikan Uang Swasta Masih Lambat

74
BERBAGI
Foto : Ilustrasi/Antara

Jakarta, thetanjungpuratimes.com – Bank Indonesia melaporkan jumlah utang luar negeri swasta kembali turun pada triwulan III/2016 sebesar 2,7 persen jika dibandingkan periode yang sama 2015.

Penurunan itu melanjutkan tren penurunan setelah pada triwulan II/2016 terkontraksi sebesar 2,3 persen, demikian pernyataan Bank Indonesia di Jakarta, Sabtu (19/10).

Utang luar negeri (ULN) swasta hingga akhir triwulan III/2016 sebesar 163,1 miliar dolar AS atau 50,1 persen dari total ULN Indonesia yang sebesar 325,3 miliar dolar AS.

“ULN sektor swasta turun 2,7 persen (yoy) pada triwulan III 2016, lebih dalam dibandingkan dengan penurunan pada triwulan sebelumnya,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara dalam pernyataan itu.

Tirta mengatakan ULN swasta banyak bersumber dari pelaku usaha sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,6 persen.

Dibandingkan triwulan II/2016, pertumbuhan tahunan ULN sektor industri pengolahan dan sektor listrik, gas dan air bersih melambat. Begitu juga, pertumbuhan tahunan ULN sektor pertambangan dan sektor keuangan yang masih terkontraksi.

Sementara ULN pemerintah atau publik sebesar 162,2 miliar dolar AS atau 49,9 persen dari total ULN. ULN pemerintah naik 20,8 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan II 2016 yang sebesar 17,9 persen (yoy).

Dari sisi jangka waktu penarikan, secara keseluruhan ULN Indonesia didominasi jangka panjang yang sebesar 283,5 miliar dolar AS atau 87,2 persen dari total ULN. ULN jangka panjang ini tumbuh 8,7 persen.

“Untuk ULN jangka pendek 41,8 miliar dolar AS atau tumbuh 1,8 persen (yoy),” kata Tirta.

Total ULN Indonesia di akhir triwulan III 2016 sebesar 325,3 miliar dolar AS atau tumbuh 7,8 persen (yoy).

“Bank Indonesia memandang perkembangan ULN pada triwulan III 2016 masih cukup sehat, namun terus mewaspadai risikonya terhadap perekonomian nasional,” ujar Tirta.

(Ant/dd)

TIDAK ADA KOMENTAR