Calon Tunggal Pilkada Tidak Pasti Menang

Calon Tunggal Pilkada Tidak Pasti Menang

BERBAGI
Foto : Dr Hermansyah. Pengamat dan Dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura/wajahindonesia.id

Pontianak, thetanjungpuratimes.com-Pengamat Hukum Universitas Tanjungpura, Dr Hermansyah, mengatakan, jika dalam suatu Pilkada hanya ada satu calon saja, belum tentu calon tersebut akan menang.

Menurut dia, karena nantinya dalam pemilihan akan ada dua kertas pilihan, yaitu yang berisi gambar calon dan yang berisi kertas kosong, calon akan dikatakan menang jika mendapatkan perolehan suara lebih banyak dari kertas kosong.

“Masyarakat harus paham betul bahwa dengan satu calon tunggal itu, tidak berarti pasti menang,” kata dia kepada thetanjungpuratimes.com, Kamis (10/11).

Dirinya juga mengatakan, jika dalam satu daerah hanya mengusung satu calon saja tentu akan menimbulkan pertanyaan, apakah hal ini bisa dikatakan demokrasi yang sebenarnya. Kata dia, jika dikaitkan dengan sebuah kegagalan partai politik mungkin bisa dikatakan demikian, karena partai politik tidak mampu untuk melakukan kaderisasi di partainya, sedangkan dalam peraturannya pemilihan calon pada setiap partai boleh menunjuk bukan hanya dari independen saja.

“Ini menimbulkan pertanyaan, masa sih dalam satu daerah tersebut hanya ada satu orang yang berkompeten menjadi pemimpin ?,” ungkapnya.

Hal ini juga menimbulkan kekhawatiran bahwa mungkin adanya politik hegemoni, yaitu dimana partai-partai besar yang memiliki suara yang cukup signifikan dalam parlemen, sehingga mengakibatkan “partai-partai kecil” lebih memilih untuk mendukung partai tersebut daripada harus mengusulkan calonnya, karena menganggap tidak mempunyai peluang untuk menang.

“Ada sebuah kekhawatiran apakah dengan adanya calon tunggal ini pure demokrasi, atau adanya politik hegemoni,” ujarnya.

Dosen Fakultas Hukum Untan yang juga merupakan anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Pusat ini mengatakan, bahwa masyarakat harus menggunakan hak pilih mereka, dan jika dalam pelaksanaan pemilihan nantinya dirasa ada hal-hal yang menyimpang segera untuk melapor.

“Masyarakat harus gunakan hak suara untuk memilih, memilih untuk tidak memilih juga adalah pilihan, misalnya memilih yang kosong itu juga adalah pilihan, supaya wajah demokrasi kita itu terlihat,” katanya.

Dr Hermansyah. Pengamat dan Dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura

(Matilda/Muhammad)

TIDAK ADA KOMENTAR