Jalin Kebersamaan, Warga di Melawi Gelar Robo-Robo

Jalin Kebersamaan, Warga di Melawi Gelar Robo-Robo

296
BERBAGI
Foto: Kegiatan robo-robo di Melawi/Edi

Melawi, thetanjungpuratimes.com – Budaya Robo-robo masih menjadi budaya yang terus dikembangkan. Di Melawi budaya tersebut masih terus berkembang, meskipun tidak dilaksanakan secara besar-besaran, namun di setiap desa masih melakukannya seperti yang dilaksanakan warga di Gang Abdul Manan.

Setiap rumah masing-masing membawa nasi lengkap dengan sayur dan lauk untuk berkumpul bersama di hamparan terpal di Jalan Gang. Sebelum makan bersama, tidak lupa dilakukan do’a bersama, sebagai wudjud syukur kepada sang pencipt yakni Allah SWT.

Nurhanis Tototon, selaku orang tua di gang Abdul manan yang mengetahui adat budaya. Tersebut mengatakan. Robo-robo dilakukan setiap hari Rabu terakhir di bulan Safar. Yang mana tujuannya lebih mempererat silaturahmi dan meningkatkan kebersamaan.

“Dari segi budaya, memang masuk dalam budaya Melayu,” ungkap ditemui usai makan bersama.

Di Gang Abdul manan ini, lanjutnya, pasti tetap dilaksakan. Pelaksanaan robok-robok ini harus ditempat terbuka, yng mana menurutnya jika zaman dulu, robo-robo mulai dilakukan sejak pukul 06.00 WIB sampai menjelang ashar pukul 15.00 WIB.

“Kalau dirumah tak boleh karena adatnya memang seperti ini,” ujarnya.

Yang menarik, pda buday ini setiap rumah membawa makanann masing-masing dari rumah berupa nasi lengkap. Namun menurut Toton, zaman dulu budaya ini, selain memasak juga harus ditempat terbuka di tanah.

“Kalau dulu harus pki kue-kue terutama kue apam ras, ini harus ada menurut adatnya,” ucapnya.

Tapi seiring berkembangnya zaman, kata Toton, sedikit demi sedikit ada yang berkurang. Seperti waktunya, tidak boleh masuk rumah dari pukul 06.00 WIB sampai bakda Ashar sudah tidak berlaku di dalam kota.

“Nah, begitu juga dengan membawa kue apam ras, juga sudah hilang sekarang ini. Bahkan makanan nasi lengkap dibawa dari rumah masing-masing, tidak seperti dulu masak bersama di tempat terbuka,” paparnya.

Menurut Toton, budaya robo-robo ini harus terus dikembangkan. Pemerintah juga mesti bisa melirik budaya ini untuk dibuat menjadi sebuah iven tahunan secara besar-besaran, seperti yang dilaksanakan Kabupaten Mempawah.

“Kalau dilakukan besar-besaran, kan selain budaya adat utamanya, juga bisa dilaksanakan pameran dan sebgainya. Tentu akan menarik wisatawan, seperti di Mempawah,” pungkasnya.

(Edi/Faisal)

TIDAK ADA KOMENTAR