Kasus Pemerkosaan dan Pencabulan di Sekadau Menonjol di Tahun 2016

Kasus Pemerkosaan dan Pencabulan di Sekadau Menonjol di Tahun 2016

BERBAGI
Foto : Kapolres Sekadau AKBP Yury Nurhidayat/Yahya

Sekadau, thetanjungpuratimes.com – Kasus pemerkosaan atau pencabulan juga menjadi sorotan lantaran melibatkan anak dibawah umur. Tak hanya sebagai korban, anak juga menjadi pelaku tindak pidana tersebut, sehingga hal itu menjadi perhatian agar dikemudian hari tak ada lagi kasus serupa terjadi di Sekadau.

Kapolres Sekadau AKBP Yury Nurhidayat mengungkapkan kasus pemerkosaan atau pencabulan merupakan salah satu kasus yang menonjol selama 2016. Bahkan, kata Yury, pernah dalam satu bulan pihaknya menangani empat perkara tindak pemerkosaan atau pencabulan.

“Saya miris, justru yang menjadi pelaku adalah anak dibawah umur. Ini harus menjadi perhatian bersama karena bukan hanya pelaku, korban juga merupakan anak dibawah umur,” ungkapnya, pada Rabu (4/1).

Belajar dari kasus tersebut, katanya pengawasan terhadap anak perlu ditingkatkan sehingga kejadian serupa tidak kembali terjadi. Pengawasan tersebut, juga memerlukan peran serta semua lapisan masyarakat untuk melindungi anak-anak.

“Saya sangat setuju sekolah tidak memperkenankan siswanya membawa handphone ke sekolah. Kalau pun membawa, sebaiknya hanya sebatas untuk sms atau telepon saja,” kata dia.

Menyikapi hal itu, anggota Komisi C DPRD Kabupaten Sekadau Muslimin turut prihatin lantaran kasus tersebut juga melibatkan anak dibawah umur. Ia mengatakan, hal tentunya tidak terlepas dari tanggungjawab orang tua dalam mengawasi anaknya.

“Kalau anak keluar malam, alasannya untuk apa? Harus jelas, sehingga orang tua dapat mengawasi tingkah laku anaknya. Jangan anaknya berbohong tapi ternyata diluar melakukan perbuatan yang negatif,” jelasnya.

Politisi Fraksi Partai Golkar itu mengatakan, jika disekolah waktu hanya beberapa jam saja guru mengawasi anak. Selebih itu, kata dia, diluar jam sekolah tentunya anak dalam pengawasan orang tuanya.

“Kami juga berharap instansi terkait seperti Satpol PP merazia rumah kos, terutama yang tidak memiliki izin rumah kos. Tidak menutup kemungkinan banyak anak-anak yang kos apalagi yang datang dari daerah,” kata dia.

Untuk mengawasi anak, kata dia, pemilik kos harus mengawasi terutama yang datang menginap ke kosnya. Sebab, kata dia, kebanyakan yang datang ke rumah kos hanya numpang sebentar atau transit saja.

“Pemilik kos harus jeli, apakah yang akan menginap dikosnya memiliki identitas atau tidak. Banyak yang katanya mau nginap sebulan tapi rupanya hanya dua, tiga hari saja,” pungkasnya.

(Yahya/Faisal)

TIDAK ADA KOMENTAR