Warga Transmigrasi dan Warga Lokal di Kayong Utara Saling Berbaur

Warga Transmigrasi dan Warga Lokal di Kayong Utara Saling Berbaur

BERBAGI
Foto: Pemukiman transmigrasi/net

Kayong Utara, thetanjungpuratimes.com – Warga luar daerah dan warga lokal sebanyak 150 KK yang ditempatkan di perkampungan transmigrasi di Dusun Semanai Desa Simpang Tiga, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara mulai berbaur satu sama lainnya.

Kendati belum sebulan mereka menempati lokasi yang tak begitu jauh dari jalan provinsi Siduk-Sukadana itu, warga dari berbagai etnis ini terlihat kompak dan senantiasa mengedepankan kebersamaan.

“Inilah kita bisa merasakan indahnya kebersamaan,” ungkap salah satu warga transmigrasi yang merupakan warga lokal, Fauzul dihubungi saat melakukan gotong royong memperbaiki akses jalan menuju transmigrasi, Senin (9/1).

Dikatakan Fauzul, gotong royong memperbaiki jalan dilakukan lantaran kondisi jalan tanggul rusak akibat sering dilewati. Terlebih hujan yang belakangan sering terjadi.

“Gotong royong ini akan menjadi kegiatan utama kita dalam kebersamaan. Tanpa adanya perbedaan, semoga dapat mewujudkan satu daerah yang subur dan makmur,” ujarnya.

Dilanjutkannya lagi, di sekitar perkampungan transmigrasi direncanakan akan dibangun sebuah pos. Diharapkan, pos tersebut bisa menjadi tempat jaga sehingga dapat memantau orang-orang yang keluar dan masuk, sehingga diharapkan semuanya bisa tertib dan tidak menimbulkan kekacauan.

“Inikan sebuah perkampungan yang baru, sehingga perlu benar-benar diperhatikan warga-warga yang keluar dan masuk,” ujarnya.

Sementara Motivator Transmigrasi Desa Simpang Tiga, Sahperi mengabarkan, sejauh ini warga transmigrasi baik yang dari luar maupun warga lokal sudah menempati rumah-rumah yang dibangun. Dianatara merekapun sudah ada yang memulai bercocok tanam.

“Mereka sudah ada yang mulai nanam sayur-sayuran dan lainnya,” kata Sahperi.

Ditanya apakah ada warga yang mundur, menurutnya, sejauh ini belum ada. Bahkan, diantara warga transmigrasi dari luar merasa bersukur dapat menempati wilayah transmigrasi di Desa Simpang Tiga karena kondisi tanahnya subur.

“Mereka (transmigrasi dari luar, Red) senang karena tanah subur dan juga dapat memiliki rumah dan tanah tanpa menyewa,” terangnya.

Sebelumnya Kepala Desa Simpang Tiga, Rajali berharap agar warga transmigrasi benar-benar dalam menggarap lahan yang diberikan. Lahan yang digarap dengan maksimal diharapkan kedepannya dapat menopang kehidupan masing-masing keluarga transmigrasi setelah bantuan berupah jatah hidup (jadup) dari pemerintah berakhir.

“Ingat jatah hidup itu tidak selamanya hanya setahun, setelah itu warga trans harus bisa mandiri,” pesannya.

Kepala Desa Simpang Tiga, Rajali mengaku sudah beberapa kali meninjau masyarakat trans yang berada di wilayahnya. Bahkan, Jumat kemarin, ia ikut menunaikan sholat jumat di pemukiman trans yang memanfaatkan balai pertemuan untuk menunaikan sholat Jumat.

(Rizal/Faisal)

TIDAK ADA KOMENTAR