Memperingati Hari Dharma Samudra, Lantamal XII Pontianak Gelar Upacara

Memperingati Hari Dharma Samudra, Lantamal XII Pontianak Gelar Upacara

BERBAGI
Foto: Prajurit Lantamal XII Pontianak saat menggelar upacara memperingati hari Dharma Samudera/Dispen Lantamal XII Pontianak

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) XII Pontianak Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI (Mar) M. Hari memimpin upacara dalam rangka memperingati Hari Dharma Samudera tahun 2017 di Lapangan Apel Markas Komando (Mako) Lantamal XII Pontianak Jalan Kom Yos Sudarso No. 1 Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. Minggu (15/01).

Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., M.A.P dalam amatnya yang dibacakan Danlantamal XII Pontianak Brigjen TNI (Mar) M. Hari bahwa upacara Hari Dharma Samudera yang diselenggarakan rutin setiap tahun ini, merupakan upacara memperingati peristiwa heroik yang terjadi di Laut Aru pada 55 tahun silam, dimana telah terjadi pertempuran laut yang melibatkan tiga kapal cepat torpedo TNI Angkatan Laut yaitu RI Macan Tutul, RI Harimau dan RI Macan Kumbang menghadapi kapal perang kerajaan belanda yang lebih modern dan canggih pada masa itu.

Komodor Yos Sudarso yang saat itu menjabat sebagai Deputi Kasal,  on board di RI Macan Tutul sebagai Senior Officer Present Afloat (Sopa), bersama awak RI Macan Tutul, akhirnya gugur sebagai kusuma bangsa. Pengorbanan para pahlawan tersebut, telah menorehkan tinta emas dalam sejarah nasional perjuangan bangsa Indonesia dalam upaya mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia NKRI, oleh karena itu, untuk mengenang peristiwa heroik tersebut, pemimpin TNI Angkatan Laut menetapkan
tanggal 15 Januari sebagai hari Dharma Samudera.

“Para pahlawan Laut Aru telah memberikan teladan sejati kepada kita, yakni sikap kesatria dan rela berkorban, mereka telah membuktikan bahwa bangsa Indonesia tidak pernah gentar menghadapi musuh dalam upaya mempertahankan wilayah, dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.

Menurutnya, sikap kesatria dan rela berkoran tersebut merupakan cerminan dari kedisiplinan, hierarki dan kehormatan militer yang selalu terjaga meskipun dalam kondisi kritis sekalipun. oleh karenanya, sebagai generasi penerus bangsa, dan sebagai prajurit matra laut pengawal samudera, sikap kesatria dan suri tauladan yang ditunjukkan oleh pendahulu harus diwarisi dengan sepenuh hati.

Tantangan yang dihadapi oleh TNI Angkatan Laut saat ini semakin hari semakin kompleks, salah satu penyebabnya adalah bentuk dari konstelasi geografis Indonesia itu sendiri dua pertiga wilayah Indonesia terdiri dari lautan yang kaya akan sumber daya alam hayati dan non hayati, serta merupakan jalur utama perdagangan laut Internasional kekayaan hayati laut Indonesia dapat dilihat dari ketersediaan ikan yang berlimpah sebagai sumber pangan yang sangat berharga.

Sedangkan kekayaan non hayati di laut salah satunya adalah minyak bumi yang merupakan sumber energi yang sangat dibutuhkan. hal ini tentu saja akan mengundang pihak-pihak tertentu untuk memanfaatkan Indonesia laut demi kepentingan mereka.

“Oleh karenanya, pertahanan laut yang kuat merupakan suatu keniscayaan guna menjamin kepentingan nasional dan juga untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” sebutnya.

Sebagai komponen utama pertahanan negara di laut, TNI Angkatan Laut mempunyai
tanggung jawab untuk menjamin kepentingan negara di laut, dan menjaga kedaulatan NKRI.

TNI Angkatan Laut, sambungnya membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas, nilai-nilai perjuangan TNI Angkatan Laut yang telah diwariskan oleh para pendahulu seperti sikap kesatria dan berintegritas tinggi, bekerja tanpa pamrih, serta lebih mengutamakan kepentingan bangsa, dan negara di atas kepentingan pribadi atau kelompok, dapat dijadikan sebagai contoh dalam meningkatkan kualitas prajurit dengan karakter yang tangguh dan berintegritas.

(R/Faisal)

TIDAK ADA KOMENTAR