Penyebab Banjir di Pontianak karena Banyak Perumahan Tak Miliki Resapan Air

Penyebab Banjir di Pontianak karena Banyak Perumahan Tak Miliki Resapan Air

BERBAGI
Foto: Genangan air di salah satu ruas jalan di Pontianak/Istimewa

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Anggota DPRD Kota Pontianak Herman Hofi Munawar menilai banjir yang terjadi di kota itu lantaran kurang daerah resapan.

“Siapa pun wali kota yang memimpin di Pontianak tetap akan terjadi banjir, sebab kota ini berada di kawasan dengan topografi datar, sehingga air bergerak lamban,” jelasnya, Kamis (16/2).

Selain itu Pontianak hanya berada 18 meter dari muara sungai Kapuas. Ketika pasang datang, kota pun tergenang. Hal ini diperparah dengan curah hujan tinggi.

“Di samping itu juga karena memang Kota Pontianak ini serapan air kita relatif sangat kurang karena banyak rumah-rumah perumahan yang tidak memiliki serapan air,” ungkapnya.

Herman meminta dinas terkait memberikan pengawasan lebih. Terutama pada kompleks perumahan yang kerap membikin perumahan tanpa memperhatikan daerah resapan, dan drainase tak memadai.

Padahal, sebutnya regulasi sudah jelas mengatur bahwa koefisien bangunan tidak boleh sembarangan. Semua lahan pun tak boleh disemen habis.

“Padahal mereka sudah memiliki IMB, harusnya IMB itu jangan dikeluarkan kalau tidak sesuai dengan ketentuan,” sebutnya.

Faktor lain menurutnya ada pada Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang kurang. Padahal dalam aturan, 30 persen dari wilayah kota, harus RTH.

Dia pun meminta dinas terkait menata kembali lahan yang berpotensi. Tak harus di satu hamparan, yang penting jumlah dan kualitasnya mencukupi.

“Itu perlu dievaluasi kembali. Kemudian kita ini kan tidak punya kolam tandon. Saya sudah beberapa tahun yang lalu mengusulkan segera dibangun kolam-kolam tendon. Kolam ini fungsinya untuk serapan air. Sebenarnya kita masih punya lahan untuk membuat kolam-kolam tendon itu,” terangnya.

Selain sebagai penampung air ketika hujan, saat kemarau air dalam kolam bisa dijadikan cadangan kebutuhan warga. Bila kebakaran lahan terjadi pun, air kolam bisa dimanfaatkan. Beberapa wilayah di luar sudah menerapkan itu, namun Pontianak tidak juga mengikuti jejak.

Faktor lain, sebagian drainase primer tidak berfungsi baik. Misalnya di kawasan Parit Demang, Sepakat, Ayani, dan ujung Sungai Raya. Sebagian parit tertutup gulma dan kurang dapat perhatian pemerintah.

“Karena jauh tempatnya, kurang tersentuh. Ini harus dilakukan dinas terkait agar menginventarisasi lagi semua parit kita, termasuk beberapa parit yang ada di Siantan sana,” usulnya.

(Agustiandi/Faisal)

TIDAK ADA KOMENTAR