Bea Cukai Ngurah Rai Telanjangi Suami-Istri Penumpang Pesawat

Bea Cukai Ngurah Rai Telanjangi Suami-Istri Penumpang Pesawat

234
BERBAGI
Foto: Pemeriksaan X-Ray/Rimanews

Bali, thetanjungpuratimes.com – Seorang penumpang pesawat asal Kuala Lumpur, Malaysia, bersama istrinya mengaku ditelanjangi oleh petugas Bea Cukai Bandara Ngurah Rai, Bali, tapi Kepala Kantor Bea Cukai Bandara Ngurah Rai, Budi Harjanto mengatakan pemeriksaan itu sudah sesuai prosedur.

“Kami sudah tindaklanjuti dan memberikan penjelasan dan beliau (yang diperiksa) menerima. Mengenai perlakuan tidak menyenangkan dan pemeriksaan badan, itu sudah sesuai SOP. Pemeriksaannya random, Dari 12 ribu orang hanya sekitar 1 persen saja,” kata Budi, Rabu (22/1).

Informasi penumpang ditelanjangi petugas Bea Cukai, diunggah oleh pemilik akun Agung Soni di forum Kompasiana dengan menyertakan laporan yang dilayangkan korban ke Unit Kepatuhan Internal Ditjen Bea dan Cukai dengan judul “Perlakukan Tidak Menyenangkan oleh Pegawai Bea Cukai.”

Diceritakan dalam tulisan itu: “Malam ini 21 Februari 2017 saya bersama istri tiba di Bandara Ngurah Rai pukul 19.30 Wita dari Kuala Lumpur.

Awalnya semua berjalan normal, ini bukan kali pertama saya keluar negeri. namun hari ini saya mengalami sebuah kejadian yang sangat tidak nyaman oleh pengawai beacukai. Saat baru saja akan keluar, tiba tiba saya di minta kembali untuk memasukkan barang bawaan saya melalui mesin X-Ray.”

Korban yang disebut Soni dengan sebutan Bang Lubis itu mengaku, semula tidak curiga akan terjadi apa-apa. “Setelah melewati pemeriksaan barang barang, ada seorang pegawai Bea Cukai dengan wajah ditutup masker, memanggil saya dengan suara yang ketus dan seperti menghardik, sorot matanya seperti penuh kebencian.

Dia minta saya meletakkan semua barang barang saya, kemudian dia mengeluarkan satu per satu semua barang bawan saya. dengan tidak ada sopan santun, tidak ada kata permisi dan minta maaf. Semua isi tas dikeluarkan, sampai semua habis, hingga maaf pakaian dalam semua juga dia bongkar,” bebernya.

“Yang membuat saya sangat tidak nyaman adalah dengan cara dia bertanya, intonasi suara dan seperti mengintrogasi seorang penjahat saja. Banyak sekali pertanyaannya, sampai hal-hal privasi saya dia tanyakan, dengan cara yang sangat sangat tidak nyaman”.

Menurut Bang Lubis, tas miliknya kembali di lewatkan di mesin X-Ray. Korban mengira pemeriksaan sudah selesai.

“Saya tanya ada apa? Kenapa saya dan istri diperlakukan seperti ini? Dia tidak mau menjawab. Dia hanya bilang ada dasar hukumnya,” sambungnya.

Petugas itu, kata Bang Lubis, hanya menjawab pemeriksaan random. Setelah menjalani rangkaian pemeriksaan, dia dan istrinya diminta masuk ke dalam ruangan kecil. Petugas itu tidak menjawab saat korban menanyakan pemeriksaan yang akan dilakukan di ruang kecil itu.

“Kata dia di dalam ruangan akan dijelaskan alasan kenapa saya di periksa. Benar-benar semakin tidak nyaman. Saya seperti seorang pelaku kriminal saja,” kata Bang Lubis.

Sesampai di ruangan kecil itu, petugas tersebut meminta korban melepas semua pakaian. Saya diperiksa, bahkan bagian bagian tubuh saya di tekan-tekan, tanpa permisi, tanpa minta maaf.

“Benar-benar keterlaluan buat saya dan tetap saja tidak ada penjelasan untuk apa semua ini mereka lakukan,” katanya.

“Terahir saya tanya lagi, dan menagih dia untuk menjelaskan. Namun dia hanya bilang saya akan bikinkan berita acara pemeriksaannya. Namun tetap tidak ada penjelasan apa pun di surat itu. Isi surat itu hanya tentang telah dilakukan pemeriksaan dengan hasil CLEAR,”.

Menurut Budi,pemeriksaan itu dilakukan menyusul temuan penyelundupan narkoba dari Malaysia dengan maskapai sama dengan yang dipakai Lubis dan istrinya.

“Dalam dua hari terakhir kami menemukan penyelundupan (narkoba) dengan melekatkan ke badan. Dan itu antisipasi kami,” ujarnya.

Mengenai keluhan Lubis bahwa petugas Bea Cukai tidak kooperatif memberi penjelasan, Budi menjelaskan, seluruh SOP sudah terpampang di ruangan.

“Tapi kami juga tetap menerima masukan dari masyarakat jika ada perlakuan petugas di luar ketentuan,” ujarnya.

(rimanews/faisal)

TIDAK ADA KOMENTAR