BKSDA Kalbar Sita Tujuh Kukang dari Warga Paloh

BKSDA Kalbar Sita Tujuh Kukang dari Warga Paloh

BERBAGI
Foto : Kukang (Nycetecebus sp) saat mendapatkan perawatan dari tim dokter hewan/Agustiandi

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat menyita tujuh ekor kukang (Nycetecebus sp) dari warga Desa Camar Bulan, Temajuk, Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas.

Ketua Tim Gugus Tugas Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Lindung BKSDA Kalbar, Taufikurrohman, mengatakan, setelah mendapatkan informasi bahwa di Desa Camar Bulan, Temajuk, Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas, ada masyarakat yang memelihara kukang, tim BKSDA Kalbar lalu mendatangi desa tersebut.

“Teman-teman dua hari yang lalu telah berangkat kesana, kita temukan di sana tujuh ekor kukang, nah ini yang kita selamatkan. Yang dilaporkan ada 10 ekor, kita di sana dengan rasa duka, karena tiga ekor diantaranya mati, udah jadi bangkai, bahkan udah ada yang mengering tergantung di pohon, dan ada yang tergeletak di tanah,” katanya saat memberikan keterangan kepada wartawan, pada Jumat (14/4) siang.

Dari tujuh ekor kukang tersebut, satu diantaranya saat ini masih dilakukan perawatan intensif oleh Tim Dokter dari Internasional Animal Rescue (IAR) Indonesia.

“Mudah-mudahan yang satu ekor ini bisa sama-sama kita evakuasi ke Ketapang,” tambahnya.

Taufikurrohman mengatakan, kukang tersebut diserahkan secara sukarela oleh NN pelajar asal Desa Camar Bulan, Temajuk, Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas pada, Kamis (13/4).

Satwa itu, lanjut dia, diperolah NN dengan cara membeli dari masyarakat  sekitar dan telah dipelihara selama empat bulan, selama dalam pemeliharaan satwa di pohon lebah areal  wisata Rumah Tebalik tersebut diberi pakan pisang.

“Pemilik satwa menyadari bahwa satwa tersebut merupakan satwa yang dilindungi, dan bersedia menyerahkan satwa tersebut secara sukarela kepada BKSDA Kalimantan Barat untuk dapat segera direhabilitasi,” ucapnya.

Saat ini satwa berada di kandang transit BKSDA Kalbar Pontianak untuk mendapatkan perawatan Tim Dokter dari IAR Indonesia sebelum dibawa ke lembaga konservasi Ketapang.

(Agustiandi/Muh)

TIDAK ADA KOMENTAR