Moment Pilwako Pontianak 2018 harus Melahirkan Pemimpin yang Merakyat

Moment Pilwako Pontianak 2018 harus Melahirkan Pemimpin yang Merakyat

BERBAGI
Foto: Ketua GMNI Cabang Pontianak, Rival/Istimewa

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Menjelang Pemilihan Wali Kota (PILWAKO) Pontianak tahun 2018, kini mulai bermunculan di tengah-tengah public masyarakat kota Pontianak, beberapa pasangan calon (paslon) sudah mulai berkampanye di media sosial.

Tentunya atmosfer pesta demokrasi mulai hadir di masyarakat kota Pontianak. Mulai dari warung kopi, ruang public, dan tempat kerja lainnya ikut serta dalam membangun opini yang menjadi beberapa figur pemimpin pada pilwako kota Pontianak tahun 2018 akan datang.

Dengan adanya momentum pilwako masyarakat kota Pontianak, diharapkan akan merindukan sosok seseorang pemimpin yang mempunyai jiwa-jiwa (leadhership) sejatinya yang lahir dari pemimpin populis, pemimpin yang merakyat, berasal dari rakyat, dan menjawab setiap persoalan-persoalan dari aspirasi rakyat, serta aktif mendukung kegiatan-kegiatan pemuda yang mengedepankan kepentingan umum, bukan golongan, kelompok, dan dari semua itu yang paling penting bukan dari gerombolan elit politik.

Memasuki era baru kecerdasan warga kota Pontianak tidak lagi bisa di tipu-tipu dengan kedudukan, jabatan, apalagi yang dimainkan sebatas konsensus janji politik.

Stigma itu yang kemudian sudah menjadi akar budaya demokrasi kita saat ini ketika menjelang pemlihan walikota maupun pemilihan kepala daerah, hal ini tidak bisa di pungkiri.

Namun itulah sejatinya alat menarik simpatisan warga untuk mendapatkan dukungan masing-masing figur yang akan bertarung di kursi pemilihan walikota Pontianak tahun 2018.
Selain itu dengan memiliki kecerdasan tersebut.

Semua kalangan masyarakat, berbagai elemen, dan yang paling penting mampu untuk memfilter hembusan isu-isu yang berbau SARA. Karena sering kali hampir semua pemilihan umum kepala daerah/bupati/walikota ada segelintir oknum-oknum yang sengaja memainkan isu tersebut.

Sebab  memberi sinyal negative timbulnya suatu gejala konflik social pasti akan melahirkan nuansa etnis, dan rasial. Yang berakhir kepada konflik horizontal. Bahwa tidak hanya itu, terlebihnya mencabik keutuhan bangsa. Dengan melihat masyarakat Kalimantan Barat secara umum yang notabene multi etnis.

Untuk itu harapan kita bersama dan seluruh elemen masyarakat kota Pontianak kurang lebih 1 tahun yang akan datang, yaitu tahun 2018 akan memasuki pesta demokrasi, berangkat atas dasar hal itu seluruh warga masyarakat kota Pontianak tidak mudah terfrovokasi isu-isu etnonalisme yang bersifat konservatif. Tetaplah menjaga keharmonisasian, kedamaain, kerukunan.

Oleh: Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Pontianak, Rival

(Faisal)

TIDAK ADA KOMENTAR