Opini : Ramadan dan Moralitas Bangsa

Opini : Ramadan dan Moralitas Bangsa

83
BERBAGI
Foto : Syahrul Kirom, M Phil, Alumnus Pascasarjana UGM Yogyakarta/R

Thetanjungpuratimes.com – Marhaban Ya Ramadan. Pada bulan ramadan 1438 H saat ini merupakan bulan yang mulia dan penuh ampunan dan maghfiroh dari Allah SWT. Umat Islam akan melakukan puasa sebulan penuh lamanya. Karena itu, ajaran nilai-nilai Islam di dalam Ibadah ramadan perlu diimplmentasikan secara komprehensif. Dengan demikian, bulan ramadan ini bagi umat Islam meningkatkan ketaqwaan dan keimanan di dalam menjalankan segala ibadah di bulan yuang mulia, yakni untuk selalu berpuasa, menjauhi perbuatan yang dilarang oleh agama, menjalankan sholat tarawih, witir, sholat malam, melainkan juga, selalu membantu kepada kaum yang lemah.

Pada momentum bulan ramadan 1438 H ini sangat tepat bagi umat Islam untuk selalu memperbaiki keimanan dan akhlaq yang sedang kering. Agama tanpa iman seolah menjadi tak bermakna. Karena itu, agama perlu diisi dengan iman agar memiliki kekuatan yang mendasar untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ritual ibadah puasa akan lebih bermakna jika umat Islam mampu menjalankan esensi makna puasa yakni melakukan perbuatan baik dan menjauhkan dari perbuatan buruk seperti korupsi uang negara, melakukan mark up anggaran, permainan tender dan proyek pada perusahaan sendiri. Kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Selain itu, dalam bulan ramadan umat Islam diharapkan selalu beriman kepada Allah SWT. Iman yang berdasar agama ini memiliki kekuatan intim dengan yang mutlak, yaitu Allah SWT.

Karena itu, nilai-nilai ajaran Islam di dalam bulan suci ramadan ini harus secara penuh diimplementasikan dalam kehidupan umat manusia dengan cara beriman kepada Allah SWT. Sehingga keimanan dan ketaqwaan yang merupakan salah satu fundamental dasar dalam membangun peradaban umat Islam bisa terejawantahkan di dalam kehidupan umat manusia.

Puasa itu sendiri adalah suatu kegiatan untuk memeras nilai-nilai kehidupan yang berlaku dalam diri pelakunya agar umat  Islam bisa menemukan sesuatu yang paling sejati. Yang sejati, yang kristal, yang esensial, yang inti, dan yang paling benar, melainkan juga mampu menguak nilai-nilai kebenaran dalam ajaran Islam demi meraih kesucian. Itulah esensi dari ibadah puasa. Puasa adalah nampeni, menyaring, menyuling, mengolah, sampai akhirnya kita temukan yang terhalus, yang terlembut dan yang tersuci untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Ritual ibadah puasa merupakan langkah konstruktif dalam melakukan pengalaman religius untuk membangun kesadaran religius sebagai upaya membangkitkan gairah untuk selalu bertaqwa kepada Allah SWT. David M Wulff, seorang ahli psikologi agama, berpendapat bahwa ada beberapa cara lebih spesifik yang bisa ditempuh, yakni berpuasa, mengurangi waktu tidur, mengisolasikan diri dari dunia sosial, dan mengatur napas secara tepat.

Pertama, dengan cara berpuasa sebulan penuh dalam agama Islam, yang berarti umat manusia harus bisa menahan diri dari makan dan minum. Dengan berpuasa umat Islam bisa mengatur dorongan badaniahnya. Umat Islam bisa melatih diri untuk menahan dorongan survival manusia yang paling dasar, dan kemudian memperoleh pengalaman religius. Berbagai tradisi religius di dunia memiliki ragam tradisi puasa yang juga berbeda. Akan tetapi, esensi dari semuanya adalah, bahwa manusia harus dapat berkorban untuk mencapai kebahagiaan yang paling otentik, yakni pengalaman mistik bersatu dengan Tuhan.

Kedua, untuk mencapai kedekatan diri kepada Tuhan, umat Islam dapat melakukan sebuh ritual individu yakni mengurangi tidur. Dengan mengurangi tidur itu umat Islam sama saja dengan melakukan pembersihan jiwa dari kotoran-kotoran kebencian dan perilaku manusia yang jahat dalam diri manusia sebagai tindakan untuk menuju yang suci dan transendental untuk lebih dekat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ketiga, dengan cara mengisolasikan dari dunia sosial untuk beribadah kepada Tuhan di tempat-tempat yang suci seperti di dalam masjid, musholla, agar dalam beribadah nantinya lebih khusuk dan tenang. Sehingga tidak ada gangguan sosial dari masyarakat, melainkan juga mengisolasikan dengan tujuan yang baik untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dengan demikian, puasa adalah suatu proses perenungan (reflection) untuk mampu memilah-milah mana yang sesuatu yang benar dan yang salah, melainkan mampu menggunakan waktunya untuk kemaslahatan umat dan untuk beribadah kepada Allah SWT. Ibadah Puasa merupakan kegiatan kontemplatif untuk menyeleksi hal-hal yang haram, yang mungkar dan yang jahat untuk kita tinggalkan seperti mencuri, melakukan korupsi, minum-minuman keras, menfitnah orang lain, bermaksiat, dugem, Sebab apa, itu adalah larangan agama Islam.

Karena itu, umat Islam harus selalu memuliakan bulan suci ramadan dengan menjalankan keutamaan-keutamaan ajaran di bulan puasa dengan selalu memperbanyak membaca ayat-ayat suci Al Quran di malam, selalu memberikan sodaqoh kepada kaum fakir miskin, sering melakukan sholat malam dan menunaikan zakat mal dan fitrah di akhir bulan suci ramadan.

Umat Islam harus memanfaatkan betul momentum bulan ramadan ini untuk memperbaiki diri kita, membersihkan jiwa kita yang kotor dan selalu melaksanakan ibadah puasa dengan penuh kebaikan, kesempurnaan, melakukan amal ibadah dan keikhlasan untuk mencapai ridhonya serta untuk selalu mendekatkan diri padanya agar ibadah puasa kita nantinya diterima Allah SWT. Kita berharap banyak kepada Allah SWT, melalui doa, puasa dan sedekah kepada kaum yang lemah, Allah SWT memberikan anugerah kebahagian, kesejahteraan, keselamatan, kesehatan kepada kita umat Islam yang menjalankan ibadah puasa 1438 H. Semoga.

Penulis : Syahrul Kirom, M Phil

Alumnus Pascasarjana UGM Yogyakarta

(R/Muh)

TIDAK ADA KOMENTAR