Syekh Ali Jaber Tekankan Umat Islam Jaga Kebersamaan

Syekh Ali Jaber Tekankan Umat Islam Jaga Kebersamaan

BERBAGI
Foto : Syekh Ali Jaber saat memberikan Tausyiah tentang Nuzulul Quran di Masjid Almuhtadin Untan/Imam

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Syekh Ali Jaber menekankan pentingnya menjaga kebersamaan umat melihat banyaknya hal yang telah terjadi beberapa waktu belakangan ini menimpa umat Islam.

Selain para generasi muda yang semakin dijauhkan dengan quran melalui banyak media dan hal yang lebih menyenangkan bagi mereka untuk dilakukan hingga menjadi lalai, ia juga menyayangkan umat yang cenderung bertikai hanya karena berbeda pandangan terhadap sesuatu, terlebih perkara agama.

Mulai dari perkara qunud subuh, hingga masalah mazhab yang diikuti oleh sesama muslim yang lainnya kerap secara tidak sengaja membuat kita saling menjauhi satu sama lain.

Hal ini, katanya, menandakan bahwa umat Islam di Indonesia belum mengambil pelajaran atas peristiwa yang terjadi belakangan ini. Padahal, umat Islam di Indonesia memiliki kelebihan secara jumlah yang dapat menjadi kekuatan tersendiri.

“Dari rentetan unjuk rasa kemarin beberapa kali demo Alhamdulillah berjalan dengan tertib, damai, dan bersih. Saya menyaksikan sendiri. Masa berunjuk rasa di satu tempat setelah pergi tempat itu seperti tidak terjadi unjuk rasa disitu sebelumnya,” ungkap Syekh Ali Jaber saat memberikan ceramah di Masjid Almuhtadin Untan.

Ia kemudian memberi analogi sederhana dengan menulis sebuah angka di sehelai kertas. Kemudian ia meminta salah seorang jamaah membaca tulisan di kertas tersebut, dengan yakin orang itu mengatakan 9. Syekh Ali kemudian menyuruh orang itu menghampirinya lalu kembali menanyakan pertanyaan yang sama, jawabannya pun berubah menjadi 6.

“Lho gimana ini tadi yakin 9 sekarang 6, tidak konsisten,” kelakarnya yang disambut tawa oleh jamaah lain.

Ia kemudian menjelaskan maksud dari hal tersebut. Orang akan selalu melihat yang lainnya salah jika ia hanya melihat dari sudut pandang dirinya, seharusnya jika ingin memahami itu ia harus mencoba melihat dari sudut pandang orang yang berbeda dengannya.

“Saya bilang ini dari arah saya angka 6, dari bapak ibu 9. Itulah masalahnya, kita cenderung fokus pada perbedaan. Padahal disini ada persamaan, kita sama-sama setuju kalau ini adalah sebuah angka, kan ? Karena itu sebelum kita lihat perbedaan-perbedaan alangkah baiknya kita lihat dulu persamaan yang ada. Sama seperti agama, tuhan kita sama, nabi kita sama, kitab kita juga sama, tujuan kita pun sama. Yang berbeda hanya sudut pandang,” terangnya.

(Imam/Muh)

TIDAK ADA KOMENTAR