Warga Bahenap Gotong Orang Sakit ke Rumah Sakit, Diskes hanya Prihatin

Warga Bahenap Gotong Orang Sakit ke Rumah Sakit, Diskes hanya Prihatin

BERBAGI
Foto: Warga desa Bahenap Kecamatan Kalis harus menandu pasien sakit berat aang mau dirujuk ke RSUD Putussibau/Yohanes

Kapuas Hulu, thetanjungpuratimes.com – Pemberitaan warga Bahenap yang sakit harus ditandu untuk berobat ke rumah sakit di Putussibau, menuai keprihatinan banyak pihak. Salah satunya Kepala Dinas kesehatan Kabupaten Kapuas Hulu, dr H. Harisson, M.Kes. Ia mengaku prihatin dengan kondisi masyarakat yang masih sulit untuk mengakses pelayanan kesehatan.

“Saya terus berupaya agar kesulitan seperti itu bisa pelan-pelan dihilangkan. Tapi hal ini tanggungjawab semua pihak, tidak bisa dinas kesehatan bekerja sendiri,” ungkapnya, Senin (12/6).

Harisson mengapresiasi masyarakat Kapuas Hulu yang dengan semangat bergotong royong membantu keluarga atau tetangga yang sakit untuk segera dibawa ke pusat pelayanan kesehatan terdekat.

“Dalam pelayanan kesehatan memang butuh dukungan bersama,” ujarnya.

Terkait kondisi pelayanan kesehatan di desa Bahenap, kata Harisson, lokasi itu sudah ada Poskesdes atau Pustu. Hanya saja tenaga kesehatan disitu pasti miliki keterbatasan di dalam menangani kasus-kasus pasien yang berat. Sehingga pasien harus dirujuk ke Puskesmas terdekat, atau ke ibukota kecamatan atau ke RSUD dr Ahmad Diponegoro Putussibau.

“Jadi tidak betul disana (Bahenap) tak ada fasilitas pelayanan kesehatan. Kami sudah menyiapkan Poskesdes ditingkat desa,” kata Harisson.

Kebijakan Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Kapuas Hulu satu desa itu ada satu fasilitas palayanan kesehatan, bisa Puskesmas Pembantu maupun Puskesdes berikut petugas kesehatannya.

“Untuk Desa Bahenap Kecamatan Kalis itu ada dibangun Poskesdes dan ada petugas kesehatannya yaitu Tenaga Bidan desa,” ujarnya.

Desa Bahenap ada tiga dusun yaitu dusun Baberuk, dusun Bahenap dan dusun Sepan Padang. Jarak dari desa Baberuk ke Bahenap sekitar 30 menit, tetapi memang kondisi jalan penghubung antar desa belum bagitu baik. Terjadi kerusakan, sehingga sulit dilewati dengan menggunakan mobil.

“Kondisi jalannya memang masih rusak, tidak bisa dilewati mobil,” ungkapnya.

Pasien dibawa ke desa Kensuray, kata Harisson, karena memang Kensuray ada jalan raya yang bisa diakses mobil.

“Di Kensuray juga ada Poskesdes dan ada tenaga bidan,” jelasnya.

Puskesmas induk, kata dia, biasanya melakukan pelayanan kesehatan berupa kegiatan Puskesmas keliling ke daerah-daerah sulit. Dan Bidan selalu melakukan kegiatan Posyandu setiap bulan kedaerah-daerah tersebut.

Dijelaskannya, kalau prinsip 1 (satu) desa satu fasilitas pelayanan kesehatan, untuk Kecamatan Kalis sudah terpenuhi lengkap dengan petugasnya.

“Masih ada dusun yang jauh dari Fasilitas pelayanan kesehatan yang kami bangun di desa.Untuk itu perlu ada peran dari desa untuk membangun Fasilitas pelayanan kesehatan seperti Poskesdes/Pustu di dusun-dusun yang jauh dari desa,”terang Harisson.

Kendati demikian, Harisson mengakui, untuk penempatan tenaga kesehatan di setiap dusun Pemkab belum mampu. Karena untuk memenuhi tenaga kesehatan per desa pihaknya kesulitan, sehubungan dengan moratorium penerimaan tenaga CPNS.

“Saya harapkan Kepala Desa mengalokasikan Dana Desa untuk membangun Poskesdes atau Pustu disetiap desa atau dusun sesuai kebutuhan,” ucapnya.

Desa juga harusnya memberikan dana operasional untuk membiayai tenaga kesehatan yang ditempatkan di desa/dusunnya masing-masing.

(Yohanes/Faisal)

TIDAK ADA KOMENTAR