Kapolri: Dua Terduga Teroris Bima Akan Serang Polsek Woha

Kapolri: Dua Terduga Teroris Bima Akan Serang Polsek Woha

BERBAGI
Foto: Kapolri Tito Karnavian bersama Menteri Perhubungan Budi Karya, Menteri Kesehatan Nila Moeloek, Menteri PUPR Basuki Hadimuljo rapat koordinasi di Mabes Polri, Jakarta, Senin (12/6).

Jakarta, thetanjungpuratimes.com – Kepolisian Indonesia menangkap 2 Terduga teroris di Bima, Nusa Tenggara Barat, Jumat (16/6) pekan lalu. Mereka akan melakukan teror di sana.

Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Polisi Tito Karnavian mengatakan bentuk teror yang akan mereka lakukan berupa rencana pengeboman di Polsek Woha, Bima, Minggu (18/6) kemarin.

“Jumat sore sudah ditangkap lagi yang di Bima dua, itu berikut bom yang sudah jadi, bahan peledak TATO (Triacetone Triperoxide) semua sama. Rencananya yang di Bima akan menyerang Polsek Woha, tapi berhasil digagalkan,” ujar Tito di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Senin (19/6).

Dua terduga teroris yang ditangkap Densus 88 Antiteror yakni Knw (21) dan Hdy (22). Tito menginstruksikan kepada jajaran kepolisian untuk pro aktif dalam menganitisipasi adanya terorisme saat Ramadan.

Tito menuturkan, Polisi juga telah menangkap puluhan orang pelaku terduga teroris di sejumlah daerah.

“Semenjak bom Kampung Melayu, saya sudah mengintruksikan kepada jajaran jangan ambil resiko, mereka yang baru punya rencana baru mengumpulkan bahan-bahan bom aja meskipun belum lengkap tangkap saja. Sekarang sudah ditangkap sebanyak 31 orang ditahan, baik di Medan, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, sampai ke daerah Bima,” kata dia.

Mantan Kapolda Metro Jaya itu mengatakan dua terduga teroris dan terduga pelaku ledakan bom Kampung Melayu belajar dari pimpinan kelompok Bahrun Naim.

“AS (Ahmad Syukri) dari Qodriyah Bandung Raya itu kita sudah menemukan handphone-nya dia yang dia punya hubungan langsung dengan Bahrun Naim yang ada di Raka Suriah. Termasuk cara mengajarkan bom dipelajari dan Bahrun Naim. Rupanya di Bima juga sama belajar dari online juga, melalui Bahrun Naim juga. Jadi yang ditangkap sudah ada bersama barang bukti,” ucapnya.

Tito menjelaskan beberapa tahun belakangan anggota polisi menjadi target dari pelaku teroris. Mereka merupakan jaringan ISIS yang ada di Indonesia yakni Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dengan pimpinan Aman Abudurrahman yang menerapkan ideologi takfiri (mengkafirkan yang berbeda mazhab).

“Kalau rekan-rekan menanya kenapa polisi yang ditembak mati, dan dikejar mereka karena prinsip mereka ideologi takfiri, ideologi yang berdasarkan prinsip tauhid yang berbeda dengan Al Qaeda. ISIS ini takfiri yaitu apapun yang bukan berasal dari tuhan dianggap haram. Kalau manusia bukan kelompok mereka termasuk muslim juga boleh dibunuh,” tutur Tito.

Ia menceritakan kasus bom bunuh diri Masjid Polres Cirebon yang menyebabkan sejumlah anggota kepolisian yang menjadi korban. Tito mengatakan pelaku terkena doktrin Takfiri dalam menjalankan aksi terornya.

“Kelompok ini punya doktrin takfiri dan salah satu konsep mereka adalah kafir harbi dan kafir dini. Semua yang bukan kelompok dia adalah kafir. Tapi yang kafir agresif menyerang mereka dianggap sebagai kafir harbi. Harbi itu perang dalam bahasa arab jadi wajib diperangi duluan. Sedangkan yang lain yang tidak menyerang mereka dianggap kafir dini suatu saat kalau mereka sudah menguasai negara, maka kafir dini harus membayar pajak kepada mereka itu konsepnya,” kata Tito.

“Itulah sebabnya penangkapan yang dilakukan terutama banyak oleh adik-adik densus 88 mereka membalas tapi membalasnya karena cari Densus susah,” sambungnya.

(Suara.com/Faisal)

TIDAK ADA KOMENTAR