Ribuan Warga Padati Hutan Mangrove Sebubus saat Lebaran

Ribuan Warga Padati Hutan Mangrove Sebubus saat Lebaran

BERBAGI
Foto: Hutan Mangrove Sebubus Jadi Tujuan Wisata Saat Lebaran

Sambas, thetanjungpuratimes.com – Ketua kelompok Kalilaek desa Sebubus Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas, Darmawan mengungkapkan hutan mangrove yang terdapat didesa Sebubus tersebut turut menjadi tujuan wisata ketika lebaran tahun ini.

“Setiap hari terdapat pengunjung yang datang ke sini, termasuk hari ini,” ujar Darmawan, Jumat (30/6).

Pengunjung yang datang yang memanfaatkan libur saat lebaran menurutnya bukan hanya dari kecamatan Paloh, namun terdapat juga dari luar kecamatan Paloh, bahkan terdapat juga pengunjung dari luar Sambas.

Dari hari pertama lebaran menurutnya sudah ada pengunjung yang berwisata ke hutan mangrove, apalagi katanya, pengunjung yang menggunakan sepeda motor bisa langsung membawa sepeda motor ke lokasi ekowisata.

Menurutnya, para pengunjung tidak lagi harus parkir dilokasi pelabuhan Sebubus, namun sepeda motor bisa langsung di bawa masuk ke lokasi ekowisata dan bisa parkir di sepanjang jalan tanggul.

“Dengan demikian hal ini untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung, agar pengunjung tidak jauh masuk ke dalam dengan jalan kaki,” katanya.

Di hutan Mangrove desa Sebubus sebut Darmawan, selain menikmati hijaunya hutan mangrove juga bisa melihat hewan berupa Bekantan. Ecowisata mangrove dan bekantan jelas Darmawan diresmikan sejak 17 Desember 2016 lalu.

Sejak diresmikan, jelasnya hingga sampai sekarang pengunjung yang berwisata ke lokasi ekowisata telah mencapai lebih dari 9 ribu pengunjung.

“Untuk fasilitas yang ada saat ini dilokasi ekowisata, berupa jembatan dan jalan titian dengan panjang 438 meter. Itu juga baru dibuat satu untuk jalur, kemudian toilet ada 2 unit, tempat berteduh serta kursi, speed boat dan perahu motor tempel milik warga setempat untuk membawa pengunjung menyusuri sungai melihat keindahan alam,” terangnya.

Selain itu, katanya untuk melihat bekantan atau kalilaek, fasilitas yang ada saat ini dinilai masih belum mencukupi ketika pengunjung sedang ramai.

Ia berharap kedepan ecowisata ini lebih diperhatikan, juga dapat dibantu serta didukung dalam pengembangannya.

Menurutnya, untuk menambah jalan titian atau track untuk mengelilingi pulau mangrove dengan luas 35 hektar, jembatan gantung penghubung pulau, tempat berteduh dan kursi, rumah pohon. Tempat rehabilitasi satwa dan tempat pertemuan, sekaligus bisa menjadi tempat sekolah alam, out bond, perahu wisata, dan penginapan.

“Yang tak kalah pentingnya adalah jalan menuju ecowisata yang saat ini menggunakan jalan tanggul 350 meter. Juga diperlukan taman alam serta kios-kios tempat masyarakat berjualan di sekitar lokasi ini,” terang Darmawan.

(Gindra/Faisal)

TIDAK ADA KOMENTAR