Trawl dan Masa Depan Laut Kita

Trawl dan Masa Depan Laut Kita

BERBAGI
Foto: Rahmat Menong/Istimewa

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Sebagai orang yang lahir dan tumbuh besar di pesisiran, saya merasakan bagaimana hidup seorang nelayan. Kelautnya subuh hari misalnya, pulangnya sore. Kadang sore pulang pagi. Kadang juga berminggu hingga berbulan baru pulang dari aktivitas melaut, itulah nelayan, sebuah pekerjaan yang katanya mencari “benda raib”.

Pengalaman saya melaut dulu, memang banyak jenis alat tangkap nelayan di laut. Ada alat tangkap kecil dan ada yang besar. Ada yang untuk di sekitaran pantai sampai untuk di tengah laut. Semua tergantung kita, nelayan mau mencari ikan bagaimana. Banyak pilihan kalau sekedar hanya untuk mencari ikan yang banyak itu di laut.

Banyak sekali pekerjaan laut yang pernah saya lakukan, dan salah satunya adalah trawl. Dari pengalaman ini, ketika saat mengangkat trawl-nya ke kapal, banyak sekali udang dan ikan di dalam jaring trawl tersebut.

Dari yang kecil sampai besar, semua ada di dalam jaring tersebut. Setelah dinaikan ke kapal, barulah kita pilih, mana hasil tangkapan yang bisa dijual dan mana yang tidak bisa dibeli orang. Sebagian dari tangkapannya yang tidak bisa dijual di buang ke laut dalam keadaan mati dan sebagiannya lagi disimpan ke dalam peti.

Pengalaman saya ini ternyata sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh WWF-Indonesia. Hasil kajian WWF-Indonesia menyebutkan bahwa hanya sekitar 18-40% hasil tangkapan trawl yang bernilai ekonomis dan dapat dikonsumsi, 60-82% adalah tangkapan sampingan (bycatch) atau tidak dimanfaatkan (discard), sehingga sebagian besar hasil tangkapan tersebut dibuang ke laut dalam keadaan mati.

Penggunaan trawl dengan mengeruk dasar perairan merusak habitat serta penggunaan mata jaring yang kecil juga menyebabkan tertangkapnya berbagai jenis biota yang masih anakan atau belum matang gonad. Pemborosan sumberdaya ini telah terjadi terus menerus sejak alat tangkap ini dipergunakan secara luas pada tahun 1960.

Jenis tangkapan ini memang tidaklah selektif dalam  menangkap semua ukuran udang, ikan, kepiting serta biota lainnya. Ikan dan udang yang telah ditangkap yang tidak dapat berkembang biak dan tentunya belum bisa menghasilkan peranakan atau telur-telur ikan dan udang lainnya pun ikut tertangkap. Akhirnya, sudah bisa dipastikan dengan adanya trawl, sesungguhnya kita tidak bisa memberikan waktu kepada biota-biota laut tersebut untuk selalu hidup dan membuat peranakan baru untuk generasi mereka selanjutnya. Dan memang, saya rasa kalau ikannya ditangkap seperti ini, bisa-bisa memang menjadi sangat langkah atau dengan kata lain, punah.

Pelarangan aturan trawl sendiri sudah pernah dikeluarkan pada era Presiden Soeharto melalui PP No 39/1980. Larangan itu keluar karena terjadinya konflik antara nelayan tradisional dan pemilik kapal trawl. Lalu pada tahun 2015 lalu pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2/Permen/KP/2015 melarang penggunaan alat penangkap ikan pukat Trawl dengan alasan alat tersebut menjadi penyebab menurunnya sumber daya ikan dan mengancam kelestarian lingkungan.

Dari kedua peraturan itu, baru kali ini peraturan tersebut “benar-benar” dilaksanakan. Peraturan Menteri Kelautan ini menuai berbagai respon dari berbagai pihak. Memang kebanyakan dari nelayan tidak setuju dari peraturan yang dibuat oleh ibu Susi tersebut. Alasannya karena tidak ada alternatif kerja lain selain trawl dan trawl.

Kalau kita berpikir dan beranggapan hanya pada trawl saja, itu juga keliru. Banyak sekali alternatif alat tangkap di laut, semisal rawai dan lain sebagainya. Tidakkah kita memikirkan masa depan laut kita. Kalau dikuras terus, lama-lama bisa habis bahkan punah segala habitatnya. Berilah kesempatan biota laut untuk tumbuh dan berkembang. Saya yakin akan banyak alternatif kerja nelayan, walaupun saat ini, begitu banyak yang mengeluh akibat dari peraturan itu.

Dampak pada ekonominya, pelarangan trawl berdampak negatif terhadap kehidupan nelayan pengguna trawl. Pelarangan trawl akan mengakibatkan penurunan tingkat pendapatan nelayan tersebut. Tingkat pendapatan yang rendah akan memengaruhi tingkat kesejahteraan nelayan yang sebagian besar memiliki pendapatan di bawah UMR. Selain tingkat pendapatan, dampak pelarangan ini akan menimbulkan perubahan alat penangkapan ikan sehingga hasil tangkapan ikan nelayan trawl tidak dapat diprediksikan dan cenderung mengalami penurunan. Sebaliknya, nelayan yang tidak menggunakan trawl akan diuntungkan dengan adanya peraturan pelarangan tersebut. Tingkat pendapatan dan hasil tangkapan ikan akan meningkat bagi nelayan yang bukan menggunakan trawl, dikarenakan kegiatan perikanan mereka tidak terganggu oleh aktivitas nelayan  pengguna trawl.

Memang semua peraturam pasti ada dampak baik buruknya. Kalau dikaji secara mendalam, memang dampak tidak baiknya akan terlihat dan terasa dari aktivitas trawl tersebut. Sudah banyak kajian penelitian dan jurnal tentang dampak baik buruknya  trawl tersebut.

Saya yakin, dengan adanya larangan penggunaan trawl dan beralih ke alat penangkap ikan lainnya dapat meningkatkan penghasilan para nelayan. Meskipun jumlah tangkapan ikan memang menurun karena alat tangkap yang digunakan lebih selektif, namun nilai produksinya justru melonjak. Semoga.

Penulis: Rahmat Menong

(R/Sukardi/Faisal)

TIDAK ADA KOMENTAR