Rektor Untan : Isu SARA Bisa Jadi Kekuatan Tersendiri

Rektor Untan : Isu SARA Bisa Jadi Kekuatan Tersendiri

BERBAGI
Foto : Rektor Untan, Prof Dr H Thamrin Usman DEA/Imam

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Dalam diskusi bersama dengan sejumlah Jurnalis pada Rabu (9/9), Rektor Untan, Prof Dr H Thamrin Usman DEA mendapatkan pertanyaan seputar kemungkinan bergulirnya isu SARA terkait dengan niatannya maju dalam Pilgub Kalimantan Barat 2018 mendatang.

Rektor mengatakan, isu tersebut dapat dijadikan kekuatan tersendiri, ia memiliki jawaban yang didasarkan pada kesehariannya memimpin Untan.

“Saya bekerja sehari-hari di kampus yang namanya Universitas, kenapa disebut begitu ? Karena sifatnya Universal,” kata Rektor.

Untuk dapat Kuliah di Untan, lanjutnya, ia tidak pernah mensyaratkan para calon mahasiswanya harus berasal dari agama atau suku tertentu.

Ia mencontohkan kebijakan yang diterapkannya pada Fakultas Kedokteran (Fasdok) Untan. Dalam menerima mahasiswa baru, Rektor menyediakan jalan bagi daerah yang ada di Kalimantan Barat agar memilih para kandidiat di regionalnya yang akan dikirim untuk belajar menjadi dokter.

“Kandidat yang dikirim itu bermacam-macam. Dari Kapuas Hulu ada Dayak dan Melayu, dari Melawi semuanya Dayak, Bengkayang kebanyakan Dayak, ke daerah utara banyak Melayu, kemudian di dari Singkawang ada China. Artinya kami bukan berbasis kepada SARA, tapi kompetensi,” jelasnya.

Rektor mengatakan, jika sesuatu dilakukan berdasarkan kompetensi maka hasilnya akan sukses. Terbukti dari uji kompetensi nasional mahasiswa kedokteran Untan yang selalu masuk peringkat tiga besar secara berturut-turut.

“Makanya soal sara jauh hari saya sudah pahami betul. Malah harusnya semua komponen yang ada di Kalbar harus diberdayakan, karena itu moto saya nanti adalah Rahmat Untuk Semua,” tambahnya.

Dirinya berpendapat seharusnya dengan berinteraksi antar suku dan agama dapat menjadikan bangsa ini kuat karena SARA dapat menjadi komponen kekuatan apabila di sinergikan.

“Sama seperti saya di Untan, ada berapa banyak doktor dan profesor disana. Ini adalah orang-orang pintar yang kalau saya tidak sinergiskan bisa hancur Untan itu,” katanya lagi.

Pria yang juga pernah memimpin Fakultas MIPA dua periode ini kembali mencontohkan keragaman suku yang ada di China, masing-masing suku disana memiliki kelebihan. Ada suku yang mayoritasnya orangnya pandai bernyanyi, ada juga suku yang pandai memasak, ada juga suku yang ahli dalam hal bercocok tanam.

“Kita di Indonesia juga, ada suku yang pandai berdagang, ada suku yang pandai menghasilkan barang kerajinan, ada yang pandai dalam hal produksi pangan dan lain sebagainya. Kalau itu kita berdayakan semua, dipastikan daerah ini bisa maju, jadi saya tidak alergi dengan isu itu,” pungkasnya.

(Imam/Muh)

TIDAK ADA KOMENTAR