Ini Alasan Gabungan Organisasi Menolak Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017

Ini Alasan Gabungan Organisasi Menolak Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017

BERBAGI
Foto : Suasan aksi di depan kantor DPRD Provinsi Kalimantan Barat/Imam

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Gabungan Organisasi dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), dan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) se Kalimantan Barat menggelar aksi menolak Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang pemberlakuan Full Day School di gedung DPRD Kalbar, pada Jumat (11/8) siang.

Masing-masing dari organisasi tersebut menyatakan alasan penolakannya.

Koordinator IPNU, Muhammad Amin, mengatakan, alasan PMII menolak pertama dilihat dari mental spiritual. Ia mengatakan, puluhan ribu madrasah diniyah dan Taman Pendidikan Quran yang biasanya diselenggarakan pukul 14.00 atau 15.00, 90 persen siswanya adalah anak usia SD dan SMP.

“Jika sekolah diberlakukan sampai sore otomatis mereka tak bisa mengikutinya,” ujar Amin.

Amin melanjutkan, siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu biasanya usai sekolah selalu membantu orang tua.

“Ada yang menjadi buruh tani, berdagang, nelayan dan sebagainya,” lanjutnya.

IPNU juga mengkritisi dari sistem pendidikan. Secara lebih luas, banyak pakar yang menyatakan jika jam sekolah anak-anak Indonesia adalah salah satu yang terpanjang di dunia namun dengan hasil kompetensi yang relatif paling minim.

Kemudian Koordinator PMII, Muhammmad Khadafi, mengatakan sejumlah pakar psikologis menyatakan bahwa anak usia SD daya serapnya tidak lagi maksimal setelah melewati pukul 13.00.

Selain itu, katanya lagi, harus diakui sarana dan prasarana berupa musala, masjid maupun kantin di sekolah belum semuanya representatif sehingga tidak bisa memfasilitasi siswa untuk salat dan makan siang.

“Kalaupun iya, jam belajar yang panjang ini mengakibatkan beban orang tua untuk memberikan uang saku bertambah karena mereka harus makan siang di sekolah,” imbuhnya.

Sementara itu, GP Ansor melihat dari segi keamanan. Menurut koordinatornya, Samhadi, siswa yang pulang sore hari tentu akan berhadapan dengan jam pulang kerja di jalan raya. Belum lagi ada dari mereka yang rumahnya jauh dari sekolah seperti di daerah pelosok yang notbanene infrastukturnya belum memadai.

“Hal ini sangat mengkhawatirkan, apa lagi bagi anak perempuan, terlebih jika itu bisa memakan waktu sampai malam hari,” kata Samhadi.

Lalu jam sekolah yang panjang juga dianggap akan mengakibatkan sedikitnya waktu untuk berinteraksi sosial dengan anggota keluarga serta orang-orang di lingkungannya.

“Ketika pulang mereka sudah merasa amat lelah. Ini akan merampas waktu bermain dan mengeksplorasi lingkungannya secara sehat,” pungkasnya.

(Imam/Muh)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY