Masyarakat Harus Kenali Gejala DBD

Masyarakat Harus Kenali Gejala DBD

BERBAGI
Foto : Ilustrasi Nyamuk Demam Berdarah Dengue/net

Kapuas Hulu, thetanjungpuratimes.com – Demam Berdarah Dengue (DBD) mengalami kejadian luar biasa di banyak daerah di Indonesia. Berdasarkan Data Direktorat Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan hingga akhir Januari 2016, kejadian luar biasa (KLB) penyakit DBD dilaporkan ada di 12 Kabupaten dan 3 Kota dari 11 Provinsi di Indonesia.

Kementerian Kesehatan RI sendiri mencatat jumlah penderita DBD di Indonesia pada bulan Januari-Februari 2016 sebanyak 8.487 orang penderita DBD dengan jumlah kematian 108 orang. Golongan terbanyak yang mengalami DBD di Indonesia  pada usia 5-14 tahun mencapai 43,44% dan usia 15-44 tahun mencapai 33,25% (http://www.depkes.go.id).

Menurut salah seorang dokter di RSUD dr Ahmad Diponegoro Putussibau, dr Samsan, masyarakat yang memiliki bayi, balita dan anak-anak mesti mengetahui bagaimana cara pencegahan dan penanggulangan penyakit DBD, agar tidak terjadi keadaan pasien dalam kondisi kritis.

“Jangan sampai saat dibawa ke pusat pelayanan kesehatan nyawa penderita tidak dapat tertolong,” tuturnya, Minggu (13/8).

Masyarakat harus waspada pada demam tinggi yang terjadi 2 (dua) hari, apalagi kalau anak tampak tidak mau minum. Kata Samsan, gejala awal tersebut sering dianggap oleh orang tua sebagai hal biasa, jika anak sedang demam maka rewel tidak mau makan.

“Tanggapan ini mulai sekarang harus disingkirkan karena kemungkinan besar anak terinfeksi virus dengue menjadi semakin kuat apabila dengan pemberian obat penurun panas, anak tetap masih mengalami demam tinggi,” ujarnya.

Menurut Samsan, gejala dan tanda klinis DBD yang muncul sudah mengalami perluasan. Bintik merah yang dulu sering sebagai pertanda munculnya penyakit DBD sudah jarang ditemui. Hal ini disebabkan beberapa jenis virus dengue mempunyai manifestasi/luaran klinis yang berbeda.

“Tidak jarang kejang yang terinduksi dari demam tinggi yang menjadi kedoknya adalah infeksi virus dengue,” ujarnya.

Terapi utama pada penyakit DBD adalah pada kuatnya pemberian cairan dan penanganan tanda kegawatan seperti syok yang mungkin memerlukan transfusi darah apabila terjadi pendarahan masif. Tanda syok ini hanya bisa segera ditemukan setelah tenaga klinis menegakkan kondisi tersebut dari tanda vital, disamping dengan hasil pemeriksaan darah lengkap dan elektrolit jika penyebabnya adalah gangguan keseimbangan elektrolit.

Oleh karena itu, orang tua maupun keluarga diwajibkan segera membawa anaknya ke pelayanan kesehatan terdekat agar deteksi dini kejadian syok yang mengkhawatirkan dapat diatasi secepatnya. Apabila curiga mengalamia anak kena DBD, para orang tua atau keluarga harus selalu mendampingi anak yang mengalami demam tinggi tersebut. Terus memotivasi anak untuk banyak minum setiap anak masih punya keinginan untuk makan atau minum, lalu memonitoring pengeluaran cairan dari kencing anak, jika kencing sangat berkurang dari biasanya segera bawa ke fasilitas kesehatan.

“Jangan memberikan obat di warung yang justru dapat membahayakan kondisi anak jika ternyata anak mengalami pendarahan tersembunyi,” tuturnya.

Kemudian hal-hal yang perlu dihawatirkan oleh para orang tua adalah ketika tungkai bawah/ekstremitas basah oleh keringat, badan hangat, dan wajah kemerah-merahan. Lalu timbul bintik-bintik pendarahan, lebam atau ruam pada kulit di muka, dada, lengan atau kaki. Ada rasa nyeri ulu hati serta kadang-kadang mimisan, kotoran berdarah atau muntah-muntah.

“Termasuk apabila anak mengalami penurunan kesadaran dan kejang. Sebelum itu semua terjadi anak harus segera dibawa ke dokter,” tutup Samsan.

(Yohanes/Muh)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY