Penanganan Lalu Lintas Pontianak Masuk Top 40 Inovasi Indonesia

Penanganan Lalu Lintas Pontianak Masuk Top 40 Inovasi Indonesia

BERBAGI
Foto : Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, saat menerima penghargaan Top 40 dari Menko PMK/Humas

Surakarta, thetanjungpuratimes.com – Seakan tak habis-habis, Pontianak kembali menorehkan catatan emas. Kali ini giliran inovasi Bisnis Cakep Lalu Lintas (BCL) yang membuat Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat ini masuk dalam Top 40 Inovasi Indonesia tahun 2017.

Top 40 merupakan tahapan akhir inovasi terbaik Indonesia tahun ini dimana tak hanya pemerintah daerah, namun kementerian, lembaga dan perusahaan negara juga masuk kategori yang sama.

Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menerima raihan tersebut langsung dari Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Puan Maharani, dalam Pembukaan Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental Tahun 2017 di Stadion Manahan Solo, Surakarta, Jawa Tengah, pada Jumat (25/8) sore.

Kesuksesan BCL seperti melanjutkan torehan RSUD Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak tahun lalu yang masuk 35 besar dengan gelar pelayanan anti diskriminasi. Bukan tanpa alasan inovasi andalan Dinas Perhubungan ini bisa sama seperti kopatriotnya mengingat Pontianak yang merupakan pusat kota jasa sehingga terobosan ini benar-benar tepat guna.

BCL merupakan sebuah konsep menata masyarakat supaya tertib berlalulintas dan parkir terutama di kawasan perdagangan atau bisnis. Kawasan bisnis itu antara lain jalan Diponegoro dan sekitarnya yang merupakan kawasan perdagangan dan padat aktivitas. Termasuk pula jalan Tanjungpura yang jadi jalur transportasi primer perlintasan kendaraan angkutan berat, seperti trailer, kontainer, truk dari pelabuhan, baik menuju ke arah timur maupun sebaliknya.

“Memang ada beberapa inovasi yang kita usulkan, tapi yang terpilih adalah BCL. Jalan diponegoro dan sebagian jalan Tanjungpura. Misalnya ada warga yang parkir sembarangan, kita bisa pantau dari CCTV dan perintahkan untuk dia menertibkan parkir,” terang Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, usai menerima penghargaan.

Lewat aplikasi ponsel pintar, Pemerintah Kota melalui Dinas Perhubungan bisa mengontrol perparkiran dan kondisi jalan. Bila terjadi pelanggaran, petugas bisa langsung memberikan peringatan lewat pengeras suara yang terpasang di CCTV. Peringatan itu pun diberi melalui ponsel pintar. Jika terus bandel, petugas patroli akan meluncur ke TKP dan memberi sanksi dalam waktu kurang dari tujuh menit.

“Rencananya kita juga akan memasang di titik-titik lain. Misalnya pasar tradisional yang parkirnya masih semrawut,” ucapnya.

BCL biayanya murah tapi manfaat besar. Walau tidak sedang berada di Pontianak, pemantauan tetap bisa dilakukan. Bahkan pemberi teguran dan peringatan tak mesti di Pontianak. Batas ruang tak jadi sekat penghalang.

Sebelum masuk Top 40 Inovasi Terbaik se Indonesia, BCL Pontianak harus melewati seleksi yang diikuti tiga ribuan inovasi dari daerah lain. Dari penilaian tersebut BCL berhasil masuk Top 99. Usai itu, Edi Kamtono dan Kadishub Utin Srilena diundang ke Jakarta untuk memaparkan cara kerja aplikasi ini di hadapan para akademisi.

Kemudian Tim Kemenpan RB juga turun ke Pontianak untuk melihat inovasi aplikasi itu apakah berjalan sesuai harapan. Saat ini aplikasi BCL juga digunakan pihak kepolisian untuk memantau terjadinya kecelakaan atau tindakan kriminal.

Sementara itu, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Puan Maharani, mengatakan, setiap instansi memang sudah seharusnya memberikan pelayanan publik terbaik serta menjadi bentuk keteladanan pelayanan bagi semua pihak.

“Penghargaan ini disaring dari 3.054 inovasi, yang terpilih kini merupakan implementasi konkret wujud nyata dalam revolusi mental. Selamat dan jangan berhenti pada ini, terus upayakan apa yang bisa diberikan, bagaimana revolusi mental bisa buat Indonesia Raya,” ucapnya dalam sambutan.

Puan berharap setelah 2,5 tahun Revolusi Mental dicanangkan, program Top 40 ini bisa terus berlangsung. Minimal dapat membuat pelayanan publik yang berkemajuan dan memenuhi kepuasan masyarakat.

“Semoga Revolusi Mental tidak jadi sekadar jargon, namun memberi kenyataan dan kenyamanan masyarakat,” pungkasnya.

(Imam/Muh)

TIDAK ADA KOMENTAR