Pelaku Penganiayaan di Rumah Ibadah Ditangkap

Pelaku Penganiayaan di Rumah Ibadah Ditangkap

BERBAGI
Foto : Para Tersangka Kasus Penganiayaan di Rumah Ibadah/Sukardi

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Ditreskrimum Polda Kalbar menyampaikan hasil penangkapan terhadap para pelaku penganiayaan terhadap seorang remaja di rumah ibadah.

Kasubdit IV (Renata) Diskrimum Polda Kalbar, AKBP Aldinan RJH Manurung, memaparkan kronologi kasus penganiayaan. Pada awal bulan Juli 2017, korban AF, laki-laki (13) ditawarkan pekerjaan oleh tersangka A untuk menjaga toko sembako di Kendawangan, Kabupaten Ketapang.

“Korban yang baru dua hari bekerja merasa tidak betah dan meminta A menjemput dan mengantar pulang ke Singkawang. Namun A tidak mengizinkn AF dan tetap merayu untuk tetap bekerja di toko tersebut. A memberikan telepon genggam kepada korban,” tuturnya, Rabu (30/8).

Dua minggu kemudian tersangka A mangajak korban jalan. Ternyata Korban dibawa oleh A  ke sebuah tempat ibadah di daerah Kendawangan yang dikelola oleh tersangka F.

Dikatakannya, di rumah ibadah tersebut, korban dipaksa oleh tersangka A dan AN untuk mengakui bahwa telah menyuruh saksi (Andy)  mencuri uang milik A, namun korban tidak mengakui perbuatan tersebut sehingga tersangka F menggoreskan sebilah senjata ke tangan dan punggung korban serta memborgol tangan dan jari jempol kaki korban menggunakan borgol, kemudian korban ditampar oleh A, AN dan F, setelah mengalami siksaan, korban terpaksa mengakui perbuatan yang dituduhkan oleh tersangka A, direkam dan diupload ke media sosial dan dikirim ke ayah Korban.

“Korban dibawah tekanan. Akhirnya membuat surat pernyataan telah melakukan pencurian,” katanya.

Tersangka AN meminta uang tebusan 20 Juta rupiah kepada Ayah korban, agar korban AF dilepas, tetapi ayah korban hanya mampu memenuhi sebesar 5 Juta Rupiah dengan harapan korban dapat dilepaskan.

Pada saat korban masih disekap di rumah ibadah tersebut, datang tersangka AL menggunting rambut korban sebanyak dua kali. Kemudian pada malam harinya datang tersangka AB menyiksa korban dengan cara menggantung botol ke telinga korban, memborgol tangan korban, menulis kalimat orang yang melakukan tindak kriminal di tangan dan punggung korban, meneteskan lilin ke punggung korban serta mengancam akan menyetrum korban.

Setelah itu tersangka AB menyuruh saksi Andy untuk memukul korban. Korban disekap dan dipukul oleh A, F dan AN (DPO), sedangkan saksi Andy dipaksa oleh tersangka AB untuk memukul korban dengan menggunakan gagang sapu ke arah tangan dan kaki korban.

Setelah dua hari korban disekap di rumah ibadah, korban dilepas dan dibawa ke rumah tersangka AN di Ketapang sambil menunggu kiriman uang dari ayah korban.

Kemudian 2 Agustus 2017 ayah korban mentransfer uang sebesar lima juta rupiah ke tersangka sebagai tebusan.

Setelah itu korban dipulangkan dengan cara dititipkan oleh teman tersangka AN menggunakan mobil truk dari Ketapang menuju Pontianak, dilanjutkan menggunakan Bis menuju Singkawang, dengan biaya pulang yang telah diberikan oleh AN kepada korban sebesar dua ratus ribu rupiah.

Keempat tersangka tersebut merupakan teman yang sering berkumpul di tempat ibadah tersebut.

Korban mengalamani trauma, sampai saat ini belum bisa berkomunikasi dengan normal. Menurut pengakuan tersangka A, tersangka bersama korban AF sebelumnya kenal dan pernah berjualan telur bersama-sama.

Korban saat ini berada di rumahnya di Singkawang. Kepolisian terus melakukan penelusuran mendalam.

Pasal yang disangkakan kepada para pelaku yakni Pasal 80 ayat 1 Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak, kemudian Pasal 333 ayat 1 KUHP, Pasal 170 Ayat 1 KUHP dan Pasal 368 Ayat 1 KUHP. Dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

(Sukardi/Muh)

TIDAK ADA KOMENTAR