Polisi Usut Robohnya Rumah Walet

Polisi Usut Robohnya Rumah Walet

BERBAGI
Foto: Kondisi rumah sarang burung walet yang roboh, Selasa (29/8) sore/NY

Landak, thetanjungpuratimes.com – Penyebab robohnya bangunan rumah sarang burung walet yang masih dalam tahap pengerjaan pada Selasa (29/8) sekitar pukul 14.30 WIB di Dusun Hilir Tengah Desa Hilir Tengah Kecamatan Ngabang, terus diusut Polres Landak.

Menurut Kapolres Landak AKBP Bowo Gede Imantio mengatakan, Polres Landak masih mendalami kasus tersebut.

“Dari hasil perkembangan pemeriksaan kasus tersebut, diketahui bangunan rumah sarang burung walet itu milik Atat,” ujar Bowo.

Polisipun langsung mendatangi lokasi robohnya rumah walet tersebut untuk melakukan evakuasi terhadap enam pekerja bangunan rumah walet yang roboh itu.

“Saat evakuasi, kita dibantu oleh BPBD Landak dan masyarakat setempat. Para korban baik yang meninggal maupun yang selamat langsung dibawa ke RSUD Landak. Kita juga sudah memasang garis polisi disekitar bangunan yang roboh tersebut dan melakukan olah TKP dan menggali informasi,” katanya.

Robohnya rumah sarang burung walet tersebut menewaskan dua orang pekerja yakni, Ya’ Jaelani, 35 dan Daeng Sanusi, 54. Sedangkan pekerja lainnya, Safri, 32 di rujuk ke rumah sakit di Pontianak. Ia mengalami luka berat. Korban selamat lainnya, Jamani, 54 mengalami luka berat dan Chairulmansyah, 46 juga mengalami luka-luka. Korban luka ringan yakni, Hamdan, 60 yang mengalami keseleo pada bagian kaki. Para korban semuanya beralamat di Ngabang.

Wakil Bupati Landak, Herculanus Heriadi yang sempat meninjau langsung lokasi robohnya rumah sarang walet itu angkat suara. Ia sangat menyayangkan pembangunan rumah sarang walet tersebut, karena dibangun dipinggir sungai dengan struktur tanah yang tidak baik.

Selain itu disitupun ada yang menyedot pasir,” ujar Heriadi, Rabu (30/8).

Ia menyarankan, seharusnya pemilik tanah dengan pihak yang membangun rumah walet itu, jangan membangun rumah sarang burung walet ditepi sungai.

“Kita khawatir hal ini akan berakibat fatal seperti kasus robohnya rumah walet ini. Lagipula lokasi pembangunan rumah walet ini daerahnya rawan banjir. Kekuatan tanahnya masih kita ragukan,” katanya.

Ditanya soal Perda walet, ia berjanji dalam waktu dekat ini Perda itu akan segera dibahas.

“Dengan adanya Perda itu, pembangunan rumah sarang walet di Landak akan tertata dengan baik. Tentunya bisa menambah PAD bagi Landak,” ucapnya.

Camat Ngabang, Yosep juga sangat menyayangkan pembangunan rumah walet tersebut. Bahkan, ia menuding rumah sarang burung walet di Landak khususnya di Ngabang semuanya ilegal.

“Rumah sarang burung walet yang sekarang ini ada di Ngabang semuanya ilegal. Bahkan, ada rumah tinggal dijadikan juga sebagai rumah sarang walet. Inikan jelas sudah menyalahi aturan,” tegasnya.

Yosep meminta supaya Pemkab Landak bisa melakukan penataan terhadap bangunan sarang burung walet yang ada di Landak. Diharapkan juga pemilik rumah walet bisa memperhatikan dampak lingkungan.

“Apalagi sudah banyak masyarakat yang memprotes dan menolak pembangunan rumah walet dikarenakan tidak ada aturannya,” jelasnya.

Ia sendiri sudah mengecek izin dari pembangunan rumah walet yang roboh itu ke instansi terkait. Hasilnya, bangunan tersebut memang tidak memiliki izin seperti IMB.

“Kita lihat pembangunan yang dilakukan pada rumah walet yang roboh itu tidak standar,” tegasnya.

(NY/Faisal)

TIDAK ADA KOMENTAR