Ust. Salafudin Abu Sayyid: Pengorbanan Berbuah Keberkahan

Ust. Salafudin Abu Sayyid: Pengorbanan Berbuah Keberkahan

BERBAGI
Foto: Ust. Salafudin Abu Sayyid saat memberikan khotbah di depan ribuan jemaah Idul Adha di masjid Raya Mujahidi Pontianak/Sukardi

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Idul adha selalu mengingatkan kita tentang kisah perjalanan hidup kekasih Allah, Nabi Ibrahim as dan keluarganya. Kisah heroik tentang keimanan, ketaatan, dakwah, perjuangan dan pengorbanan, Alquran mengabadikan kisahnya agar menjadi pelajaran bagi kaum beriman sepanjang zaman.

Baginda tercinta, Nabi Muhammad SAW, adalah teladan yang baik bagi kita. Begitu juga kakeknya, Nabi Ibrahim as, putra-putrinya dan para pengikutnya, yang tertuang di dalam Alquran surah Al-Ahzab ayat 21, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu teladan yang baik bagi kalian.” Kemudian di dalam Alquran surah Al-Mumtahanah ayat 4, “Sesungguhnya telah ada teladan yang baik bagi kalian pada diri Nabi Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya.”

Banyak pelajaran yang dapat kita teladani dari Nabi Ibrahim, yakni:

1. Belajar Tauhid dan Keimanan

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang panutan lagi patuh kepada Allah dan hanif (lurus). Sekali-kali bukanlah Dia termasuk orang-orang yang musyrik” Alquran surah An-Nahl ayat 120.

“Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam kitab (Al-Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi” Alquran surah Maryam ayat 41.

2. Belajar Menunaikan Ketaatan yang Sempurna

“Ingatlah ketika Ibrahim diuji Rabbnya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata, ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku” Alquran surah Al-Baqarah ayat 124.

Sahabat Ibnu Abbas ra, “Belum pernah ada orang yang mendapatkan ujian dalam agaa kemudian menegakkanya dengan sempurna melibihi Nabi Ibrahim as” Tugas yang diperintahkan kepada Nabi Ibrahim as dilakukan dengan segera, sempurna dan dilakukan semuanya. Ketaatan yang paling pertama dilakukan dan sangat utama yang dicontohkan Nabi Ibrahim as adalah dalam menegakkan shalat.

3. Belajar Dakwah

Nabi Ibrahim as lahir di kota yang penduduknya menyembah berhala. Bahkan ayah beliau sendiri termasuk orang yang ahli dalam membuat berhala dan juga menyembah berhala. Demikian juga raja yang berkuasa, Namrud, adalah seorang penyembah berhala. Ibrahim as mendakwahi keluarganya, kaumnya dan rajanya. Tetapi sedikit di antara mereka yang beriman.

4. Belajar Berkorban

Tiada pengorbanan yang lebih besar dari seorang ayah melebihi pengorbanan agar meninggalkan putra dan istri yang paling dicintai. Menempatkan istri dan putra yang masih balita, Ismail as di lembah yang gersang. Dijalaninya dengan penuh ketulusan. Puncak dari pengorbanan itu adalah ketika datang perintah untuk menyembelih Ismail as, tertuang di dalam Alquran surah Ash-Shaaffaat ayat 102 sampai 107.

Berkah pengorbanan, perjalanan kekasih Ar-rahman ini memberikan pelajaran yang sangat mendalam. Bahwa pengorbanan akan melahirkan keberkahan. Berkah pengorbanannya dan keluarganya, kota Mekah dan sekitarnta menjadi pusat ibadah umat Islam sedunia. Jejaknya menjadi bagian dari manasik haji yang dilaksanakan tiga jutaan umat Islam pada hari ini. Sumur Zamzam yang penuh berkah mengalir di tengah padang pasir dan tidak pernah kering. Pengorbanan selalu membuahkan keberkahan.

Mari kita bangun bangsa Indonesia, yang merupakan anugrah Ilahi Rabbi. Kita bangun jiwanya, kita bangun badannya. Kita cintai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita Isi kemerdekaan hasil pengorbanan para pejuang, dengan berbagi kebaikan. Kita ajak para pemimpin dan seluruh rakyatnya untuk membangkitkan kembali spirit berkorban. Dengan inilah kita akan dapatkan keberkahan serta meraih cita mulia, baldatun thayyibatun wa rabbun ghaffur.

(Sukardi/Faisal)

TIDAK ADA KOMENTAR