Ustadz Salafudin Abu Sayyid : Sebarkanlah Ujaran Kebaikan

Ustadz Salafudin Abu Sayyid : Sebarkanlah Ujaran Kebaikan

BERBAGI
Foto : Ustadz Salafudin Abu Sayyid, Pendiri Ngaji Metal/Sukardi

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Hoax atau berita palsu serta maraknya penyebaran ujaran kebencian sering kita temukan di media sosial, Ustad Salafudin Abu Sayyid mengatakan, hal tersebut bukanlah akhlak Islam, dirinya mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menyebarkan kebaikan.

“Sering adanya hoax dan penyebaran kepalsuan bukan akhlak Islam sama sekali. Kita tidak boleh menyebarkan kebencian karena itu bukan misi Islam sama sekali, tapi Islam adalah menyebarkan cinta. Menyebarkan salam atau kedamaian,” katanya, usai bertugas menjadi Imam dan Khatib Salat Idul Adha di halaman Masjid Raya Mujahidin Pontianak, Jumat (1/9).

Dikatakannya, kita harus mengupayakan bangsa yang besar ini walaupun beragam, beda agama. Kalau kita berbicara tentang suatu keyakinan, kemudian ini menjatuhkan atau menjelekkan yang lain, itu tidak. Tapi kita memiliki keyakinan dan keyakinan itu secara hukum dinaungi di negeri kita.

“Maka sesungguhnya kalau masyarakat kita menyadari dan kembali kepada keyakinannya masing-masing, kemudian kepada landasannya, Insya Allah tidak akan dengar lagi ujaran kebencian. Tapi yang ada saling menasehati, saling mengingatkan, maka ada dalam Islam itu saling mewasiatkan dengan kesabaran dan kebenaran. Juga memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran itu yang terpenting,” katanya.

Dikaitkan dengan pengorbanan Nabi Ibrahim pada momentum hari raya Idul Adha 1438 Hijriyah ini, Ustad Salafudin Abu Sayyid memberikan gambaran upaya Nabi Ibrahim mengajak ayahnya yang berbeda ideologi pada kebaikan dengan cara yang lembut dan menyampaikan ujaran kebaikan.

“Ini adalah tugas rumah kita, bagaimana mengajak masyarakat kita untuk saling mencintai, karena dasar segala sesuatu ini sebenarnya adalah cinta. Kita ingin bahwa seorang yang berbeda bahkan, itu kita ajak kepada kebaikan. Nabi Ibrahim mengajak ayahnya yang adalah berbeda ideologi. 180 derajat berlawanan, tapi diajak dengan kelembutan, kebaikan dan cinta. Termasuk kita diperintahkan mencintai orang tua walaupun beda ideologi, kita tidak boleh membenci, apalagi mengujarkan kebencian. Yang meski disebarkan ujaran kebaikan dan ujaran cinta, bukan ujaran kebencian, karena itu bukan akhlak Islam,” pungkasnya.

(Sukardi/Muh)

TIDAK ADA KOMENTAR