YLKI: Formulasi Tarif Baru Jalan Tol Jagorawi Tidak Adil

YLKI: Formulasi Tarif Baru Jalan Tol Jagorawi Tidak Adil

BERBAGI
Foto: Antrean kemacetan kendaraan yang melintas di ruas jalan tol dalam kota, Jagorawi-Jakarta, Rabu (6/9). [Suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Jakarta, thetanjungpuratimes.com – PT Jasa Marga (Persero) Tbk per 8 September 2017 telah mengubah tarif tol ruas Jagorawi dengan formulasi satu tarif atau tarif flat. Keputusan ini dikritik oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) sebagai kebijakan yang tidak adil.

Menurut Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi,  terdapat tiga aspek yang harus disorot dengan formulasi tersebut. Pertama, formulasi tarif tersebut harus diaudit dan transparan, jangan sampai perubahan tarif tersebut dijadikan kedok untuk menaikkan tarif terselubung. Jika pendapatan PT Jasa Marga pada ruas Jagorawi mengalami kenaikan, berarti ada kenaikan tarif terselubung.

“Dan hal ini bisa dikategorikan melanggar regulasi,” kata Tulus di Jakarta, Jumat (8/9).

Kedua, formulasi tarif Jagorawi terlihat tidak adil, karena cenderung memberatkan pengguna jalan tol untuk gate yang pendek seperti gate TMII, Cibubur, dan Sentul. Disisi lain, formulasi baru tersebut terlalu ringan/murah untuk pengguna tol gate Bogor karena hanya Rp6.500.

Ketiga, formulasi tarif terjauh yang sangat murah tersebut (Rp. 6.500), merupakan formulasi tarif yang kontra produktif bagi pengguna Commuter Line. Sangat mungkin pengguna KRL akan bermigrasi ke pengguna tol/pengguna mobil karena tarif tolnya lebih murah dari pada tarif KRL-nya. Jika ini terjadi maka Jakarta akan makin macet. Bahkan, formulasi tarif tol Jagorawi akan mengakibatkan Light Rail Transit Cibinong-Jakarta mati suri, karena tidak laku.

“Akibatnya LRT yang dibangun dengan tujuan untuk mengatasi kemacetan di Jakarta tidak akan efektif karena tidak laku,” tutup Tulus.

(Suara.com/Faisal)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY