Lima orang Meninggal Dunia di Singkawang Akibat Demam Berdarah

Lima orang Meninggal Dunia di Singkawang Akibat Demam Berdarah

BERBAGI
Foto : Djoko Suratmiarjo, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Singkawang/Mizar

Singkawang, thetanjungpuratimes.com – Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Singkawang, Djoko Suratmiarjo, mengatakan, dari Januari sampai dengan 14 September 2017 tercatat sebanyak 109 kasus penyakit Demam Berdarah. Dengan meninggal dunia sebanyak 5 orang.

Berbagai upaya pun telah pihaknya lakukan guna menanggulangi penyakit musiman tersebut. Diantaranya, menggalakkan fogging (pengasapan) di lima Kecamatan yang ada di Kota Singkawang.

“Fogging ini sudah kita lakukan hampir di lima kecamatan yang ada di Kota Singkawang,” ujarnya.

Pihaknya juga telah melakukan fogging di RT 13 dan RT 07, Kelurahan Kampung Jawa (belakang SDN 17 Singkawang Tengah).

Disamping itu, pihaknya pun telah menggalakkan abatesasi ke rumah-rumah warga dan sekolah khususnya kepada wilayah yang memang rawan dengan penyebaran penyakit Demam Berdarah.

Alasan pihaknya menggalakkan abatesasi di sekolah, karena berdasarkan analisis data dari tiga tahun terakhir, bahwa kasus demam berdarah penderitanya adalah rata-rata anak-anak sekolah.

“Maka itulah sekolah juga tak luput dari pemberian bubuk abate tersebut,” jelasnya.

Disamping melakukan upaya-upaya penanggulangan penyebaran DBD, dia juga mengharapkan peran serta dari masyarakat Singkawang untuk menerapkan gerakan 3M guna memberantas jentik-jentik nyamuk di tempat penampungan air.

Hal itu diingatkan dia, sepanjang masih ada jentik-jentik di tempat penampungan air maka DBD akan masih beresiko tinggi bagi masyarakat.

“Maka itulah kita harapkan peran lurah, RT, dan masyarakat untuk selalu menggalakkan gerakan 3M (Menutup, Menguras, dan Mengubur). Terlebih memasuki musim penghujan saat ini,” pintanya.

Karena menurutnya, pemberian bubuk abate hanyalah plus dari gerakan 3M. Artinya, yang paling utama adalah gerakan 3M. Dan itu ada di masyarakat lingkungan itu sendiri.

“Mana tempat-tempat yang bisa menampung air sebaiknya ditutup supaya nyamuk tidak bisa bertelur,” pintanya lagi.

Bagi tempat yang tidak bisa di tutup, katanya, sebaiknya rajin dikuras seminggu sekali.

“Tapi kalau sayang dengan airnya, sebaiknya di tutup rapat-rapat,” sarannya.

Tak hanya itu, dia juga meminta agar masyarakat dapat mengubur atau mendaur ulang sampah-sampah yang bisa menampung air.

“Masyarakat diharapkan kerja baktilah untuk membersihkan tempat-tempat yang bisa menampung air khususnya yang berada di luar rumah,” katanya.

(Mizar/Muh)

TIDAK ADA KOMENTAR