MUI Kalbar Tegaskan Konflik di Myanmar bukan Konflik Agama

MUI Kalbar Tegaskan Konflik di Myanmar bukan Konflik Agama

BERBAGI
Foto: HM. Basri Har, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalbar/Sukardi

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya, Myanmar, memunculkan berbagai asumsi dari masyarakat Indonesia, khususnya Kalbar, diantaranya mengaitkan tragedi tersebut dengan konflik agama, diperkuat lagi dengan berita yang beredar tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Barat, HM. Basri Har, dengan tegas ia menilai krisis kemanusiaan yang menimpa etnis muslim Rohingya di Myanmar bukan soal perbedaan agama.

“Itu bukan konflik agama, itu tragedi kemanusiaan, cuma karena di Rakhine, Rohingya mayoritas muslim sehingga ada yang mengkaitkan ini ke konflik agama,” katanya, Kamis (14/9).

Basri Har menuturkan agar masyarakat tetap mempercayakan kepada pemerintah terkait tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya.

“Sekarang cukup konsen Menlu untuk melakukan lobi baik kepada pemerintah Myanmar dan pemerintah Bangladesh sebagai negara tempat pengungsian,” tuturnya.

Basri Har mengatakan, informasi terbaru yang didapat, sekarang yang menjadi masalah ialah upaya pemasukan bantuan untuk etnis Rohingya yang masih berada di Myanmar.

“Kita berharap yang pertama ini bukan konflik agama, kalau kita mau melakukan dukungan, dukungan yang paling mendesak berupa kebutuhan sehari-hari. Tapi kalau aksi yang kurang produktif itu, hanya membuang energi saja,” pungkasnya.

(Sukardi/Faisal)

TIDAK ADA KOMENTAR