Kadis Dikbud sebut Saprahan Masuk Materi Pelajaran Muatan Lokal

Kadis Dikbud sebut Saprahan Masuk Materi Pelajaran Muatan Lokal

BERBAGI
Foto: Foto: Mulyadi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak/Imam

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, Mulyadi, mengatakan bahwa untuk memperluas upaya pengenalan saprahan sebagai budaya lokal setempat pada generasi muda, maka saprahan ini akan dimasukkan kedalam buku mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok).

“Jadi saprahan ini kita masukkan karena saparahan ini sudah termasuk, sudah diakui sebagai warisan tak benda untuk Kota Pontianak,” kata Mulyadi pada Selasa (26/9).

Dimasukkannya saprahan dalam mata pelajaran Mulok ini berarti menambah daftar barisan kebudayaan lokal lainnya yang sudah dimasukkan duluan dalam penyusunan materi pelajaran seperti meriam karbit, arakan pengantin, dan baju batik corak insang.

“Jadi itu nanti masuk ke dalam Mulok supaya anak-anak kita mengetahui akar budaya yang ada di Kota Pontianak dan daerah-daerah lain yang ada di Kalbar,” lanjutnya.

Mulyadi juga mengimbau kepada sekolah-sekolah yang ada di Kota Pontianak untuk menyisipkan hal yang berbau budaya lokal dalam kegiatan peringatan-peringatan, ataupun acara hari jadi sekolah.

Dirinya mencontohkan misalnya pada perayaan ulang tahun sekolah pada hari tersebut siswa-siswa diwajibkan mengenakan batik corak insang. Kemudian dirangkaian acara yang begitu banyak ada kegiatan makan bersama civitas sekolah secara saprahan menyisip diantaranya.

“Budaya-budaya itu sudah harus di masukkan supaya tidak hilang di sekolah,” tuturnya.

Apa lagi, tambah Mulyadi, saprahan bukan hanya sekedar makan bersama saja. Ada nilai-nilai yang terkandung didalamnya yang tercermin pada masing-masing komposisi mulai dari tata cara penyajian hidangan, hingga menyantapnya.

Dijelaskannya, didalam saprahan tersebut mengandung nilai-nilai kepemimpinan, nilai kedisiplinan, nilai kerja sama, nilai etika, nilai estetika, dan juga nilai moral. Khusus yang disebutkan terakhir adalah mengarah pada salah satu kewajiban dalam budaya saprahan yaitu berdoa bersama sebelum makan.

Beberapa hal tersebut dikatakan Mulyadi sudah masuk dalam upaya dari pelaksanaan pendidikan karakter pada anak yang memang harus ditumbuh kembangkan.

“Ini satu diantara sekian banyak upaya untuk menanamkan nilai-nilai positif yang ada pada anak. Saya yakin dan percaya kalau anak kita giatkan kegiatan-kegiatan budaya ini anak-anak tidak akan terpikir kepada hal-hal budaya yang ndak benar,” pungkasnya.

(Imam/Faisal)

TIDAK ADA KOMENTAR