Opini : Mudahnya Merusak Mental dan Moral Pemuda Bangsa

Opini : Mudahnya Merusak Mental dan Moral Pemuda Bangsa

BERBAGI
Foto : Ilustrasi Pemuda/Ist

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Suatu pemandangan yang menarik perhatian pada aksi remaja saat ini. Mengapa tidak ? Bermaksud ingin tampak gaul di hadapan lainnya, terdapat sekelompok remaja menggunakan pakaian bermakna ‘menggauli’. Sungguh sangat tersentak melihat pemandangan gambar yang terdapat pada pakaian remaja ini dan bertuliskan IKEH.  Begitu lemahnya moral remaja saat ini, dengan rasa percaya diri remaja ini terang-terangan menunjukkan gambar yang tidak baik ditampilkan, terlebih pada khalayak ramai.

Terlintas bahwa gambar mampu memberikan suatu makna ajakan pada orang yang melihatnya. Ajakan untuk melakukan suatu tindakan sebagai pesan tersirat. Terbayangkan, apabila suatu gambar yang ditampilkan pada masyarakat umum adalah gambar yang bermakna positif, maka akan menumbuhkan suatu stimulus untuk melakukan hal positif. Namun, apabila yang terjadi adalah sebaliknya ? Bukankah hal tersebut akan menumbuhkan rangsangan untuk melakukannya. Mengapa ? Karena apa yang kita gunakan dan ditampilkan akan dilihat oleh kalangan umum, seperti orang tua/dewasa, remaja sebaya, dan anak-anak. Bagi kalangan awam gambar yang telah ditampilkan di masyarakat berarti suatu hal yang baik (dilihat dan dinikmati pemandangannya), sehingga secara tidak langsung hal ini memberikan sebuah pengajaran pada  prilaku seseorang.

Ternyata di era digital saat ini begitu mudahnya seseorang merusak moral para pemuda, mulai dari tulisan hingga tindakan. Sikap demikian berarti kebebasan kita sudah tidak terkontrol. Memang sulit dipungkiri lagi bahwa kondisi sosial masyarakat saat ini mulai lemah menegakkan norma yang ada. Suguhan dari gadget, televisi, maupun media sosial lainnya memang bukan rahasia lagi di tengah-tengah kita mempertontonkan adegan-adegan yang dapat memancing anak muda yang labil untuk mengikutinya. Sehingga hal tersebut tentu akan mempengaruhi psikologi maupun pikiran-pikiran anak muda saat ini.

Sesuatu yang salah, namun Diam

Ketika kita jalan-jalan ke tempat rekreasi, taman kota, tempat olah raga umum, atau tempat lainnya, tentu sering kita temukan fenomena-fenomena muda-mudi berduaan, bergandengan, berpelukan bahkan tindakan yang tidak boleh dilakukan seakan-akan mereka sepasang suami istri. Mirisnya, kita diam dan membiarkan seakan kita membenarkan apa yang mereka lakukan. Padahal itu salah.

Seperti yang terjadi baru-baru ini, terdapat beberapa remaja menggunakan pakaian dengan gambar yang memiliki makna “menggauli”. Berapa banyak orang yang mampu berkomentar dengan hal ini ? Apakah hal ini dianggap terlalu munafik atau terlalu jauh melintas kebebasan dan privasi seseorang. Justru, jika hal ini dibiarkan terus berlanjut, maka boleh jadi dimasa akan datang generasi-generasi kita akan menjadi manusia yang menghalalkan tindakan yang dapat melemahkan mental sebagai manusia yang bermoral, atau dalam istilah lain menghalalkan pergaulan bebas.

Memang benar apa yang dikatakan para orang tua bijak, bahwa pola kehidupan modern adalah salah-satunya penyebab dari perilaku bebas di tengah masyarakat saat ini. Kecenderungan untuk dikatakan ‘Gaul’ harus diperhatikan dengan serius. Sebagai pelajar dan mahasiswa di lingkungan kampus kita harus memberikan kontribusi besar untuk mencegah terjadinya pergaulan bebas di kalangan anak muda.

Sering terdengar dan terlihat di sekitar kita, pelajar atau mahasiwa yang terlibat dalam pergaulan bebas. Membiarkan pemandangan-pemandangan yang tidak baik, namun itulah yang terjadi. Jika hal ini terjadi demikian, lalu apa arti agama yang kita anut ? Apakah kita membiarkannya berjalan begitu saja ? Atau pasrah pada kenyataan dan menunggu biar Tuhan yang menyelesaikannya ?

Lantas siapa yang bertanggungjawab terhadap fenomena ini ? Jika kita harus menunjuk salah satunya, tentu lagi-lagi kembali pada pemerintah. Mengapa ? Karena pemerintah dalam hal ini sebagai pemegang tertinggi dalam mengatur kehidupan sosial masyarakat. Tentu harus membangun regulasi dengan unsur-unsur masyarakat terkait. Pemerintah harus mampu merangkul ulama, tokoh adat, tokoh agama, maupun tokoh masyarakat lainnya untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat terutama kaum pemuda untuk menyelesaikan fenomena ini.

Coba kita membayangkan, apa yang akan terjadi jika hal ini dibiarkan mengalir begitu saja ? Apa yang terjadi pada generasi kedepannya. Lalu bagaimana nasib bangsa ini ? Apakah ini tanda akhir zaman yang terlukiskan dalam kitab suci ? Kita boleh saja mengejar pembangunan fisik ataupun materil. Namun, kita jangan sampai lupa terhadap pembangunan moral dan mental. Harus ada sinergisitas antara keduanya. Karena jika tidak, maka bangsa kita akan hancur dan roda kehidupan manusia tidak berjalan seimbang. Jika moral dan mental pemuda telah rusak, maka moral bangsa pun juga akan ikut rusak. Bagaimana bangsa kita bisa dikatakan baik, apabila maksiat di depan mata dibiarkan begitu saja. Mana mungkin Tuhan memberikan keberkahan bagi tanah air kita jika dosa-dosa manusia berlumuran diatas bumi-Nya.  Inilah kegelisahan yang selalu mengusik batin kita. Namun kita tidak punya keberanian untuk melawannya.

Mengutip kalimat Imam Ali bin Abi Tholib ra : ”Aku khawatir terhadap suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan. Keyakinan hanya tinggal pemikiran, yang tak berbekas dalam perbuatan. Banyak orang baik, tapi tak berakal. Ada orang berakal tapi tak beriman. Ada lidah fasih tapi berhati lalai. Ada yang khusyuk namun sibuk dalam kesendirian. Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis. Ada ahli maksiat rendah hati bagaikan sufi. Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat. Dan ada yang banyak menangis karena kufur nikmat. Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat. Dan ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut. Ada yang berlisan bijak tapi tak memberi teladan. Dan ada pelacur yang tampil jadi figur. Ada orang punya ilmu tapi tak paham. Ada yang paham tapi tak menjalankan. Ada yang pintar tapi membodohi. Ada yang bodoh tak tau diri. Ada orang beragama tapi tak berakhlak. Dan ada yang berakhlak tapi tak bertuhan. Lalu diantara semua itu, dimanakah kamu berada ?”

Harapan terbesar bangsa yang baik, agar setiap elemen masyarakat mampu menegakkan norma yang telah ada. Khususnya sebagai pemuda dan pemudi harapan terbesar bangsa untuk melanjutkan estapet pembangunan negeri Indonesia tercinta. Mari bersama-sama kita merangkul saudara kita dalam mencegah tindakan yang mampu melemahkan mental kita sebagai seorang individu yang bermoral.

Oleh : Ayu Istiqomah

Koordinator Perempuan KAMMI Wilayah Kalbar

(R/Muh)

TIDAK ADA KOMENTAR