Warga Sumber Harapan Keluhkan Dampak Pabrik Kelapa Sawit

Warga Sumber Harapan Keluhkan Dampak Pabrik Kelapa Sawit

BERBAGI
Foto: Ilustrasi limbah sawit/Nusantara.com

Sambas, thetanjungpuratimes.com – Kehadiran pabrik kelapa sawit di Desa Sumber Harapan kecamatan Sambas kabupaten Sambas, dikeluhkan oleh warga lantaran berdampak terhadap lingkungan di desa tersebut.

Satu diantara warga, Nazarhan pabrik tersebut telah penyebabkan pencemaran udara berupa aroma tidak sedap, yang menyengat yang dikeluarkan oleh pabrik kelapa sawit tersebut.

Ia juga mengungkapkan, terdapat warga yang mengalami gatal-gatal akibat menggunakan air sungai yang diduga tercemar limbah pabrik kelapa sawit yang terdapat di desa tersebut.

“Pembangunan pabrik kelapa sawit yang berada di wilayah Desa sumber Harapan kecamatan Sambas, kurang sosialisasi yang dilakukan oleh perusahaan, karena ketika pabrik sudah berdiri dan akan beroperasi pada tahun 2016 lalu, barulah pihak perusahaan menggelar sosialisasi. Itupun hanya di lakukan satu kali sosialisasi, didesa Sumber Harapan kepada beberapa orang saja,” ujar Nazarhan, Kamis (12/10).

Sementara sosialisasi yang kedua lanjutnya, dilakukan sosialisasi di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Sambas, yang ketika itu masih berbentuk Badan penanaman modal pelayanan perizinan terpadu Sambas.

“Itu sosialisasi yang dilakukan oleh perusahaan, setelah pabrik berdiri,” katanya.

Nazarhan menilai pembangunan pabrik kelapa sawit, yang saat ini sudah beroperasi tanpa terlebih dahulu melibatkan masyarakat.

“Ini karena, dalam sosialisasi yang dilakukan didua tempat tersebut hanya melibatkan tidak lebih dari lima warga desa Sumber Harapan,” jelasnya.

Akibatnya tegas Nazarhan, saat ini masyarakat desa Sumber Harapan yang merasakan dampak kehadiran pabrik tersebut, karena setiap hari, terutama pada malam hari atau pada saat hujan turun.

“Warga desa mencium bau tidak sedap dari limbah pabrik kelapa sawit tersebut. Juga sudah mulai terdapat warga yang mengalami gatal-gatal, bahkan terdapat warga yang menderita koreng setelah menggunakan air sungai yang diduga terkontaminasi limbah pabrik,” katanya.

Dikemukakannya, beberapa warga desa Sumber Harapan telah menyampaikan masalah tersebut kepada pemerintah desa Sumber Harapan. Namun hal tersebut, direspons oleh pemerintah desa dengan mengatakan tidak tahu.

“Kita pernah mempertanyakan dasar izin pembangunan pabrik kepada desa, namun pihak desa mengaku tidak mengetahui,” terang Nazarhan.

Karena merasa sangat terganggu akibat dampak kehadiran pabrik tersebut, Nazarhan mengaku jika ia bersama warga lainnya beberapa hari lalu mendatangi pabrik tersebut. Hal ini katanya, ingin mengetahui izin pembangunan pabrik kelapa sawit di desa mereka.

“Kita mendatangi pabrik tersebut, namun kita malah berhadapan dengan polisi. Karena dikatakan oleh perusahaan, kehadiran kami mendatangi pabrik untuk berdemo. Padahal kami ingin melihat izin pabrik kelapa sawit tersebut,” katanya.

Menurutnya, kehadiran pabrik kelapa sawit di desa Sumber Harapan tidak memberikan penghasilan untuk desa.

“Sepanjang yang kita ketahui, tidak ada pemasukan desa dari pabrik tersebut. Bahkan tenaga kerja yang dipekerjakan di pabrik tersebut, hanya satu dua orang saja, kita merasakan lebih banyak mudorat dari manfaat atas kehadiran pabrik kelapa sawit tersebut,” terangnya.

Keberadaan pabrik kelapa sawit yang sudah terlanjur ada di desa Sumber Harapan, dikatakan oleh Nazarhan di harapkan bisa memberikan manfaat kepada desa Sumber Harapan.

“Hal ini dapat dilakukan dengan mengikuti peraturan yang ada, kita sebagai masyarakat mempunyai harapan seperti itu. Pabrik tidak membuang limbah tidak sesuai aturan, begitu juga dengan kepedulian pabrik kepada desa,” ucapnya.

(Gindra/Faisal)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY