AS Bohongi Inggris Agar Ikut Perang Invansi ke Irak

AS Bohongi Inggris Agar Ikut Perang Invansi ke Irak

BERBAGI
Foto: Warga Irak tengah berjalan di dekat potongan patung Saddam Hussein yang dihiasi mahkota ban bekas dan dikalungi pakaian kotor, Baghdad, 14 April 2003. [RAMZI HAIDAR/AFP]

Inggris, thetanjungpuratimes.com – Inggris disebut menjadi korban penipuan Amerika Serikat untuk mendukung invansi negeri ‘Pakde Sam’ itu ke Irak dan meruntuhkan rezim Sadam Hussein pada 14 tahun silam.

Hal tersebut diungkapkan Gordon Brown, Menteri Keuangan Inggris di era Tony Blair, dalam buku barunya berjudul “My Life, Our Times”.

Dalam buku itu, seperti dilansir Telegraph, Minggu (5/11), Gordon menyebut mantan bosnya–Tony Blair—ditipu oleh Presiden AS kala itu, George Walker Bush.

“Bush mengatakan kepada Tony bahwa AS mempunyai dokumen yang memastikan Saddam Hussein mempunyai akses ke senjata pemusnah massal. Tapi, hingga keduanya tak lagi jadi kepala negara, Bush tak pernah bisa membuktikan adanya dokumen itu,” tulis Gordon.

Tak hanya itu, Gordon mengatakan, Bush kala itu mengatakan kepada Tony bahwa mereka mendapat laporan rahasia bahwa Saddam akan meluncurkan rudal berisi zat biologis untuk memusnahkan penduduk Inggris dalam waktu 45 menit.

Tony dan Inggris, kata Gordon, sebenarnya tak mau ikut menyerang dan menjajah Irak pada sejak perang itu dideklarasikan pada 20 Maret 2003.

Bahkan, aktivis Partai Buruh—basis politik Tony—sudah menyatakan tak mau pemerintah mendukung AS guna melancarkan perang terhadap Saddam Hussein.

“Partai Buruh tak suka Inggris pergi berperang di bawah kendali AS. Selain perang itu akhirnya merenggut nyawa 33 orang kami, aktivis Buruh juga tak menyukai kedekatan Tony dengan Bush,” ungkapnya.

Beberapa bulan sebelum perang invasi dilakukan, Gordon mengatakan rezim PM Tony Blair sebenarnya sudah meragukan seluruh dokumen yang disodorkan AS mengenai Saddam Hussein.

“Intelijen kami yang terlatih pun menyatakan ragu terhadap akurasi dokumen yang katanya dimiliki AS itu. Lagi pula, siapa di antara kabinet Tony yang pernah melihat dokumen AS itu? tak ada,” tandasnya.

(Suara.com/Faisal)

TIDAK ADA KOMENTAR