Masyarakat Anjongan Beternak Kambing Bligon

Masyarakat Anjongan Beternak Kambing Bligon

BERBAGI
Foto : Pelatihan peningkatan kapasitas teknis beternak kambing di Desa Anjongan Dalam/R

Mempawah, thetanjungpuratimes.com – Lembaga Penelitan dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPKM) Universitas Tanjungpura (Untan) bekerjasama dengan Badan Restorasi Gambut  (BRG) baru-baru ini mengadakan pelatihan peningkatan kapasitas teknis beternak kambing di Desa Anjongan Dalam.

“Selama ini kami masih beternak secara tradisional dan masih awam, bagaimana membuat pakan ternak dan kesehatan ternak kambing ini,” tutur Yohanes Yahya yang juga merupakan Kades Anjongan Dalam.

Dirinya berharap, dengan kegiatan ini banyak mendapatkan ilmu baru dalam beternak kambing yang baik, kambingnya gemuk-gemuk dan sehat menjadi primadona baru masyarakat. Selain itu Ia juga ucapkan terima kasih kepada BRG dan Tim LPPKM Untan yang telah melaksanakan kegiatan pelatihan ini  untuk melakukan revitalisasi ekonomi masyarakat terdampak gambut di desanya, sehingga masyarakat tidak melakukan bakar-bakar lahan dan bisa berdaya secara ekonomi.

“Masyarakat juga senang ada pembinaan dan pelatihan yang kontinyu dari LPPKM Untan,” ucapnya.

Duta Setiawan, S.Pt M.Si tim pendamping kegiatan ini sekaligus dosen Program Studi Peternakan Untan mengatakan, peternak kambing perlu memperbaiki tata kelola pemeliharaan kambing, sehingga bisa cepat bunting, beranak, besar gemuk dan banyak untungnya.

“Ternak kambing yang seadanya akan mengakibatkan kerugian pada peternak, untuk itu peternak perlu mengetahui trilogi peternakan yaitu breeding (pembibitan), feeding (pakan) dan manajemen tata laksana budidaya kambing yang baik,” jelasnya.

Lebih lanjut menurut Duta Setiawan, bibit ternak harus baik, pilih yang sehat, matanya bersinar, badannya tinggi dan bulu kambing tidak keriting, rontok, sehingga mengakibatkan cacingan. Dalam pembibitan ternak kambing jangan melakukan kawin sedarah atau istilahnya in breeding  yang mengakibatkan penurunan kualitas keturunannya, sama seperti manusia tidak boleh kawin sesama saudaranya yang masih kerabatnya.

“Pakan juga merupakan faktor penting dalam budidaya ternak kambing agar status kebutuhan nutrisinya terpenuhi, sehingga bisa untuk hidup pokok, produksi dan reproduksi. Kalau manusia pada balita ada program 4 sehat 5 sempurna untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, maka ternak pun perlu pakan tambahan konsentrat atau lauk pauknya kalau dalam makanan manusia. Kambing pun sama butuh konsentrat supaya lebih sehat, cepat gemuk, besar dan cepat beranak,” ungkapnya.

Selain itu, konsentrat bisa memanfaatkan limbah-limbah pertanian yang banyak dibuang belum termanfaatkan seperti lumpur sawit, pelepah sawit, daun sawit, dan dedak padi yang banyak terdapat di Anjongan. Manajemen sangat penting sekali seperti kandang kambing dibuat senyaman mungkin agar nyaman, tidak stres dan tidak menimbulkan penyakit.

Kambing bligon kambing jenis unggul lebih besar daripada kambing kacang menjadi kambing pilihan masyarakat Anjongan. Kegiatan pelatihan ini diikuti oleh masyarakat desa Anjongan Dalam yang sebagian besar beternak kambing.

Pembicara pelatihan ini Dokter hewan Sri Suprihatin yang bertugas di UPT Pembibitan Ternak dan Pakan Dinas Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Kalimantan Barat. UPT ini ada di Toho berdekatan desa Anjongan yang memiliki kandang kambing, lahan untuk hijauan pakan ternak yang unggul dan berkualitas.

Dalam paparannya, Sri Suprihatin menjelaskan, kesehatan ternak perlu dilakukan agar ternak tetap sehat dan tidak menular ke ternak yang lain. Penyakit yang sering muncul di peternakan kambing terbagi menjadi 3 golongan utama yaitu pencernaan, kulit dan reproduksi. Penyakit pencernaan seperti Bloat atau kembung, penyebabnya adalah faktor pakan (tanaman masih muda, leguminosa, konsentrat terlalu tinggi, urea tinggi dan faktor hewan seperti kepekaan hewan/genetic atau istilahnya alergi. Gejala: perut menggelembung, intake makan dan minum menurun, kambing pasif/ambruk, nafas cepat dan dangkal. Terapi yang dapat segera dilakukan para peternak adalah dengan cara anti bloat (dimeticone), minyak goreng (oral), vitamin (supportif), trokar.

“Diare menjadi penyakit yang sering terjadi pada ternak kambing, terapinya adalah pemberian anti biotik (bakteri/virus), pemberian vitamin (supportif) atau secara tradisional dengan memberi jamu pucuk daun jambu biji dan kunyit. Penyakit Reproduksi pada kambing adalah Distokia merupakan proses kelahiran sulit dan lama (calon cempe tidak dapat keluar) penyebabnya adalah genetik, gizi, infeksi, traumatic,” paparnya.

Penanganan distokia bisa dilakukan dengan Reposisi, Tarik paksa, Pemotongan janin (Fetotomi), Operasi Sesar. Penyakit reproduksi yang lain adalah Keguguran atau keluron artinya pengeluaran calon cempe sebelum akhir masa kebuntingan dengan calon cempe belum mampu untuk hidup. Ini perlu dicegah dengan tindakan preventif dengan vaksinasi, sanitasi dan bio security pemeliharaan.

(R/Muh)

TIDAK ADA KOMENTAR