Opini : Aku Bukan “Setan”

Opini : Aku Bukan “Setan”

BERBAGI
Foto : Aksi penolakan LGBT/Republika.co.id

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Menyikapi isu yang sedang hangat diperbincangkan, yaitu penolakan Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap yudisial riview yang dilakukan oleh penggugat untuk pelaku LGBT dan homo seksual di Indonesia yang tidak bisa dipidana.

Saya berpendapat bahwa :

  1. Perilaku homo seksual dan LGBT bertentangan dengan budaya dan kebiasaan masyarakat Indonesia yang hidup beragama dan berkebudayaan. Saya tekankan bahwa dua (LGBT dan homo) komponen tersebut tidak sesuai dengan kultur masyarakat Indonesia.
  2. Perilaku tersebut tidak sesuai dengan semangat Pancasila, yang selama ini kita gaungkan dan kita agung-agungkan.
  3. Jika mereka (LGBT dan seksual) mengatakan itu adalah wujud dari kebebasan, maka saya katakan itu adalah kebebasan yang kebablasan.

Itu bukan budaya dan perilaku masyarakat Indonesia, tapi itu adalah bagian dari konspirasi. Sekali lagi kebebasan bukan berarti meninggalkan kebudayaan, sosial dan kemasyarakatan apalagi melepaskan diri dari agama.

  1. Dari sisi kesehatan dan reproduksi, saya berpendapat bahwa, melegalkan dan membiarkan ini terjadi adalah bencana buat kita semua, dimana laki-laki dan perempuan bisa saja tidak saling suka. Dan yang lebih parah adalah (LGBT) hubungan dari perilaku tersebut tidak akan melahirkan keturunan, justru akan merusak mental dan pikiran pelaku dan masyarakat sekitar.
  2. Dalam sudut pandang agama, saya rasa semua agama melarang perilaku menyimpang tersebut. Bahkan kalau dalam agama Islam jelas untuk pelakunya maka akan dicambuk atau bahkan dirajam.

Sebagian besar masyarakat Indonesia tentu kecewa dengan keputusan tersebut. Jika kita mencoba bijak dan memperhatikan dengan seksama apa keuntungan bagi masyarakat Indonesia dari pengakuan dan perlindungan agar mereka tidak bisa di pidana ? Saya rasa tidak ada, justru hadirnya mereka akan membahayakan generasi penerus bangsa. Akan banyak perilaku-perilaku yang menyimpang yang disebabkan masalah ini.

Aku bukan “Setan”, kita semua pun bukan “Setan” yang bisa membiarkan dan menonton saja fenomena dan perilaku menyimpang yang bukan adab dan kebiasaan masyarakat Indonesia. Dan tidak menggambarkan ajaran-ajaran pendidikan dan melanggar norma.

Saya kira semuanya mengecam hal ini, dan menyayangkan keputusan tersebut. Anggapan atas dasar keadilan dan kebebasan seakan-akan seluruh masyarakat setuju akan hal tersebut, saya tegaskan sebagian besar Masyarakat Indonesia menolak keputusan tersebut karena melanggar norma-norma kehidupan bermasyarakat.

Sekali lagi kami kecewa dengan keputusan kontroversi ini, kami kecewa negara bisa melindungi sekelompok kecil, tapi membiarkan bahaya besar di depan mata dikarenakan kelompok kecil tersebut. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat toleran, tapi bukan untuk menoleransikan semuanya (LGBT), termasuk yang bertentangan dengan akal sehat dan adat kebiasaan.

Oleh :

Muhammad Wawan Gunawan

Mantan Presiden Mahasiswa IAIN Pontianak 2016-2017

(Sukardi/Muh)

TIDAK ADA KOMENTAR