Figur Madura Primadona Pilwako Pontianak

Figur Madura Primadona Pilwako Pontianak

BERBAGI
Foto : Ilustrasi/Kurniadi

Pontianak, thetanjungpuratimes.com-Suksesi Pemilihan Walikota Pontianak kali ini menjadi menarik, tidak hanya didominasi kaum muda, figur dari masyarakat Madura pun turut menjadi fenomena yang mewarnainya.

Dari Lima pasangan calon yang sudah melakukan sosialisasi, empat diantaranya menjadikan figur dari suku Madura sebagai pasangan, baik sebagai wakil bahkan ada yang mencalonkan sebagai Walikota langsung.

Empat pasangan itu adalah Syarif Usmulyadi dan Deni Hermawan, kemudian Edi Kamtono-Bahasan, Satarudin-Alfian, David-Hardy, tiga pasangan tersebut menjadikan figur yang berasal dari Madura sebagai Calon Wakil Walikota, hanya David Hardy tokoh Madura yang mencalonkan diri sebagi Walikota.

Jika mengacu pada peristiwa Politik di Kota Pontianak sebelumnya, hanya Paryadi yang menjadi calon Wakil Walikota dan sukses terpilih saat berpasangan dengan Sutarmidji pada periode pertama kepemimpinanya di Kota Pontianak, namun saat Sutarmidji pecah kongsi dan harus berhadapan dengan Paryadi secara langsung dalam kotestasi Pilwako, maka Ia pun yang berpasangan dengan Bastian kala itu,  harus mengakui pasangan Sutarmidji dan Edi Kamtono yang mendominasi perolehan pada pemilihan  periode 2012-2018.

Hal inilah yang menjadi fenomena pada suksesi Pilwako Pontianak periode, 2018-2023, kalau strategi dan langkah politik yang dimainkan pasangan peserta Pilkada kali ini menjadi perbincangan di masyarakat dengan berbagai argumentasi nya dan menjadikan suksesi kepemimpinan Kota Pontianak menjadi semakin dinamis.

Untuk Pilwako saat ini keputusan masing masing calon menggadang pasangan dari tokoh Madura merupakan hal yang menarik untuk diamati, selain diharapkan sebagai pendulang suara dari etnis Madura yang mendominasi wilayah Utara dan Timur Kota Pontianak, tentu kepiawaianya dalam melaksanakan Pemerintahan yang baik sangat diharapkan masyarakat Pontianak secara keseluruhan.

Berbagai pendapat yang berkembang di masyarakat atas peristiwa ini tentunya harus menjadi pendorong dan ajang pembuktian bagi masing-masing pasangan calon peserta Pilwako Pontianak, yang tidak hanya berpijak pada entitas apalagi melakukan gerakan politik identitas.

Pembangunan Pontianak serta keberlangsungan program-program unggulan yang akan memajukan dan meningkat kwalitas Kota Pontianak menjadi taruhannya, jangan sampai hal tersebut menjadi sia-sia karena masyarakat tidak memberikan hak pilihnya secara tepat.

(Syafarudin Ariansyah)

TIDAK ADA KOMENTAR