Opini : Konversi Limbah Cangkang Udang Wangkang Menurunkan Kadar Bahan Organik pada...

Opini : Konversi Limbah Cangkang Udang Wangkang Menurunkan Kadar Bahan Organik pada Air Gambut

BERBAGI
Foto : Stefunny, S.Si, Mahasiswi Pascasarjana Ilmu Kimia, FMIPA Untan

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Sebagai negara yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia Indonesia dikenal sebagai negara maritim yang kaya akan potensi baharinya. Hampir seluruh provinsi di Indonesia memiliki potensi untuk memproduksi hasil perikanan, demikian pula di provinsi Kalimantan Barat.

Berdasarkan Data Pusat Statistik dan Informasi, produksi udang di Kalimantan Barat pada tahun 2010 mencapai 11.161 ton dengan total jumlah nelayan sebanyak 9.861 orang. Angka produksi ini akan terus meningkat seiring dengan tingkat konsumsi yang semakin tinggi pula tiap tahunnya, sehingga produksi limbah kulit udang juga akan menjadi aspek yang perlu diperhatikan sebagai akibat dari peningkatan tersebut.

Limbah cangkang udang memiliki nilai ekonomis yang rendah, biasanya hanya dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pada pakan ternak atau sebagai bahan baku pembuatan petis dan terasi. Selama ini, kebanyakan limbah cangkang udang hanya dibuang begitu saja sehingga menghasilkan bau busuk, akibatnya kualitas lingkungan yang bersih dan sehat menjadi turun.

Selain itu, limbah cangkang udang dapat merusak kualitas perairan karena limbah cangkang udang dapat meningkatkan BOD (Biological Oxygen Demand). Apabila ditinjau dari komposisinya, cangkang udang mengandung protein (25-40%), kalsium karbonat (45-50%) dan kitin (15-20%). Kitin yang terdapat pada cangkang udang dapat diubah bentuknya menjadi kitosan (melalui tahapan deasetilasi) yang bersifat polielektrolit. Sifat inilah yang dimanfaatkan sehingga dapat meningkatkan nilai guna dari limbah cangkang udang tersebut.

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengisolasi kitin yang terdapat dalam cangkang biota laut, seperti cangkang kepiting, udang maupun kerang. Selanjutnya kitin tersebut diubah menjadi kitosan dan dimanfaatkan untuk banyak aspek, misalnya sebagai koagulan untuk memperbaiki kualitas air gambut dan limbah cair industri tekstil dan sebagai adsorben logam berat pada perairan.

Di Kalimantan Barat, salah satu jenis udang yang paling banyak ditemukan adalah jenis udang wangkang, kebanyakan limbah cangkang udang wangkang hanya dibuang begitu saja. Di samping itu, ketersediaan air gambut yang cukup melimpah di Pontianak dipandang dapat menjadi sumber air bagi masyarakat. Namun, apabila ditinjau dari segi kualitas maka air gambut tidak dapat langsung digunakan karena keberadaan bahan organik yang tinggi yaitu sekitar 210,24 mg/L. Adanya bahan organik di dalam air gambut dapat menjadi prekursor trihalometana (THM) yang bersifat karsinogenik.

Selain itu, penampilan fisik dari air gambut yang berwarna kecoklatan dan berpH rendah menyebabkan air gambut tidak memenuhi standar air bersih. Oleh karena itu, limbah cangkang udang wangkang tersebut dapat diubah menjadi kitosan yang nantinya akan digunakan untuk proses koagulasi air gambut di Pontianak.

Adapun proses konversi limbah cangkang udang menjadi kitosan melewati 3 tahapan, yaitu tahap demineralisasi dengan menggunakan asam klorida (tahap penghilangan mineral), tahap deproteinasi dengan menggunakan natrium hidroksida (tahap penghilangan protein) dan tahap deasetilasi dengan menggunakan natrium hidroksida berkonsentrasi tinggi (tahap pemutusan gugus asetil kitin menjadi kitosan).

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Laboratorium Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Tanjungpura (Untan), kandungan dari cangkang udang wangkang adalah mineral (51,12%), protein (21,03%) dan kitin (23,12%). Sehingga dari 1 kg limbah cangkang udang wangkang dapat menghasilkan ± 100 gram kitosan. Kitosan dari limbah cangkang udang wangkang ini kemudian diaplikasikan untuk menurunkan kadar bahan organik pada air gambut, dari hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan kadar bahan organik pada air gambut sebesar 67,82%.

Angka persentase ini menunjukkan bahwa limbah cangkang udang yang mulanya tidak memiliki nilai guna, ternyata dapat memperbaiki kualitas air gambut. Sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif untuk mengolah sumber air di Pontianak.

Oleh : Stefunny, S.Si

Mahasiswi Pascasarjana Ilmu Kimia, FMIPA Untan

(R/Muh)

TIDAK ADA KOMENTAR