KPK Harap RUU KUHP Perkuat Pemberantasan Korupsi

KPK Harap RUU KUHP Perkuat Pemberantasan Korupsi

BERBAGI
Foto : Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, di gedung KPK/suara.com

Jakarta, thetanjungpuratimes.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berharap Rancangan Undang-undang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RUU KUHP) memperkuat pemberantasan korupsi di Indonesia. Harapan itu disampaikan KPK menyusul kembali masuknya RUU KUHP dalam program legislasi nasional 2018 yang akan dibahas bersama 20 RUU prioritas lainnya. Pembahasan RUU ini sudah diajukan pemerintah ke DPR pada Desember 2012 lalu, namun hingga kini belum juga rampung.

“Prinsip dasarnya RUU KUHP yang akan dihasilkan nanti sebaiknya tentu harus memperkuat upaya pemberantasan korupsi,” kata juru bicara KPK, Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Selasa (30/1/2018).

Menurutnya, penguatan upaya pemberantasan korupsi ini salah satunya dengan memasukan sejumlah norma dalam United Nation Convention Anticorruption yang telah diratifikasi Indonesia melalui Undang-undang nomor 7 tahun 2006. Tak hanya soal tindak pidana di sektor swasta yang telah masuk dalam draf RUU KUHP, KPK juga berharap KUHP mengakomodir sejumlah norma lainnya dalam UNCAC seperti perdagangan, pengaruh suap terhadap pejabat publik asing, dan memperkaya diri sendiri secara tidak sah.

“Termasuk apa yang sudah kita ratifikasi dalam UNCAC tersebut, tentu akan maksimal jika ditangani oleh KPK, Kepolisian, dan Kejaksaan secara bersama-sama,” katanya.

Febri mengatakan, harapan agar KUHP dapat memperkuat pemberantasan korupsi dengan mengakomodasi norma-norma UNCAC telah disampaikan KPK saat rapat dengan Kemkumham ataupun DPR. Namun, dirinya mengaku, KPK belum mendapat undangan dari DPR untuk turut membahas draf RUU KUHP.

“Saya cek ke Biro Hukum belum menerima undangan untuk ikut dalam proses pembahasan tersebut,” kata Febri.

(suara.com/muh)

TIDAK ADA KOMENTAR