Ini Enam Alasan Agar Masyarakat Tidak Menonton Atraksi Lumba-Lumba

Ini Enam Alasan Agar Masyarakat Tidak Menonton Atraksi Lumba-Lumba

BERBAGI
Foto: Ilustrasi atraksi lumba-lumba/Ancol.com

Pontianak, thetanjungpuratimes.com – Direktur Yayasan Titian Lestari, Sulhani, menuturkan setidaknya ada 6 alasan mengapa masyarakat harus peduli dan tidak menonton atraksi lumba-lumba dan satwa liar lainnya.

Pertama, atraksi lincah Lumba-Lumba yang melompat ke udara sebenarnya melibatkan diet ketat di baliknya. Mereka dibuat lapar, dipaksa bergerak sesuai arahan, demi mendapatkan ikan atau makanan.

Kedua, Lumba-Lumba yang tampil di pentas, dilatih dengan sistem reward and punishment dengan membiarkan Lumba-Lumba merasa lapar dan juga dipaksa melompat dan mengikuti intruski dengan iming-iming beberapa ikan sebagai imbalan.

Ketiga, kolam tempat mereka melakukan atraksi jauh dari habitat asli. Tak hanya sempit, kesehatan penglihatan mereka pun terancam di sini. Secara alami Lumba-Lumba adalah penjelajah yang berenang aktif hingga ratusan kilometer dalam sehari. Namun saat menjadi anggota atraksi dalam pentas, mereka justru harus tinggal di kolam dan itu pun masih harus berbagi ruang dengan lumba-lumba lainya.

Ketiga, riuh suara penonton justru membuat mereka terkena gangguan resonansi, yang bisa berujung pada akhir yang tragis. Tidak dipungkiri, Lumba-Lumba masuk dalam jajaran hewan cerdas karena banyak hal.

Selain karena kapasitas otak yang lebih besar dibandingkan simpanse, mereka juga bisa mendeteksi keberadaan Lumba-Lumba lain pada jarak 220 km dengan sistem sonarnya. Mereka akan melihat dan berkomunkasi dengan menggunakan getaran suara yang merambat di perairan yang tenang.

Suara tepuk tangan dan riuh tawa para penonton bisa mengganggu keseimbangan indera pendengaran Lumba-Lumba yang juga berfungsi sebagai indera penghlihatan mereka. Gangguan resonansi yang datang dari riuh rendah penonton di sekeliling bisa membuat lumba-lumba mudah stres, hingga berujung pada kematian.

Keempat, membiarkan Lumba-Lumba tampil atraksi dipentas sama saja memisahkan mereka dari koloni (kelompok).

Secara alami, Lumba-Lumba menerapkan pola hidup berkoloni (berkelompok), mereka akan berkenalan dengan Lumba-Lumba lain, mencari makan bersama, dan gotong royong untuk tetap hidup. Selain itu, mereka juga suka berkelana, memisahkan diri, dan kemudian masuk kedalam komunitas baru. Karena tingkat sosial yang tinggi, lumba-lumba juga bisa disebut sebagai penjelajah samudra yang handal.

Namun, hidup alaminya akan terpasung saat mereka dijadikan bintang dipentas. Dalam
proses training (pelatihan) mereka terpaksa hidup di kolam sempit bersama Lumba-Lumba lain. Proses perpindahan dari satu lokasi atraksi ke lokasi lain juga bukan dengan berenang, melainkan diangkut dalam kotak sempit yang dimasukkan dalam truk. Bahkan kulit mereka pun harus dilapisi mentega agar tetap lembab, ditutupi handuk basah, sambil sesekali disiram air.

Perlakuan yang sangat jauh berbeda dengan cara hidup dihabitat asli mereka, ini jelas-jelas bukan upaya pelestarian, melainkan sebuah aksi yang menyebabkan Lumba-Lumba stres berkepanjangan.

Kelima, Edukasi apa yang didapat penonton dari pentas Lumba-Lumba?

Penonton riuh dan tepuk tangan saat melihat Lumba-Lumba melakukan berbagai aktraksi seperti; melompat, melempar bola, menghitung, melewati cincin api dan lainnya. Atraksi ini bukanlah edukasi akan tetapi ekploitasi.

Kita harus tahu seperti apa perilaku Lumba-Lumba di alam liar seperti; Lumba- Lumba akan memberikan karangan rumput laut untuk para betinanya sebelum mereka melakukan perkawinan?, bagaimana induk Lumba-Lumba menjaga anaknya?, Lumba-Lumba melompat hanya untuk mengambil nafas?, Lumba-Lumba saling bercanda dengan lumba-lumba lain dengan suara ultrasoniknya? dan apakah kita tahu bahwa Lumba-Lumba sangat cerdas dan mampu mengenal kawannya yang sudah 20 tahun tidak berjumpa?

Edukasi seperti ini, kami menyakini tidak akan didapat oleh penonton dari pelatih Lumba-Lumba maupun Event Organizer (EO) penyelenggara pentas.

Keenam, Indonesia satu-satunya negara yang masih ada pentas Lumba-Lumba.

Indonesia adalah negara terakhir yang masih memperbolehkan pentas Lumba-Lumba diadakan dari satu kota ke kota lain. Banyak Lumba-Lumba yang ikut pentas mati karena stres, keracunan klorin, hingga karena perawatan yang kurang baik.

(R/Sukardi/Faisal)

TIDAK ADA KOMENTAR