Berkas Perkara IRT yang Ngaku Asisten Kasi Pidum Kejari Sambas Lengkap

Berkas Perkara IRT yang Ngaku Asisten Kasi Pidum Kejari Sambas Lengkap

BERBAGI
Foto: Kasi Datun Kejari Sambas, Siti Hadijah S Tarigan/Gindra

Sambas, thetanjungpuratimes.com – Kejaksaan Negeri (Kejari) Sambas sedang menangani perkara kasus penipuan yang dilakukan oleh Perawati alias Pera (37). Seorang ibu rumah tangga asal Desa Penjajap, Kecamatan Pemangkat Kabupaten Sambas yang melakukan penipuan dengan mengaku sebagai Asisten Kasi Pidum Kejari Sambas.

Modus yang dilakukan oleh wanita lulusan SMA ini adalah dengan cara mengiming-imingi korban, dapat meringankan tuntutan terhadap suami korban jika dapat menyerahkan uang sebanyak Rp17 juta.

Kasi Datun Kejari Sambas, Siti Hadijah S Tarigan mengungkapkan, berkas perkara penipuan tersebut saat ini telah masuk dalam tahap 2, serta telah dinyatakan lengkap, sehingga dapat segera dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Sambas untuk segera disidangkan.

“Berkasnya sudah masuk tahap dua dan dapat diterbitkan P-21. Tersangka Pera dan barang bukti dapat dilakukan penuntutan ke persidangan karena berkas perkaranya sudah memenuhi persyaratan untuk dilimpahkan ke pengadilan,” ujarnya, Minggu (4/2).

Menurut Siti, kronologis aksi penipuan yang dilakukan Pera bersama komplotannya
berawal pada Senin (17/11), sekitar pukul 11.30 WIB, seorang temannya bernama Mimi alias Mereng menghubungi Pera, dengan tujuan menawarkan pekerjaan.

“Lalu pada Selasa (28/11) sekitar pukul 08.40 WIB, Mimi alias Mereng menelepon Pera dengan mengabarkan bahwa dirinya hendak ke rumah Pera,” ungkap Siti.

Beberapa jam kemudian, Mimi datang ke rumah Pera, dan temannya Mimi bernama Gery kemudian menelpon Mimi. Tak seberapa lama, Mimi kemudian menyerahkan hp-nya kepada Pera.

“Dalam pembicaraan telepon tersebut, Gery menjelaskan berbagai hal yang harus dikerjakan Pera dan menyuruh Pera berbohong dengan mengaku sebagai Nurmala, selaku Asisten Ibu Susan, Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Sambas. Dan yang menjadi targetnya adalah Nurdalila alias Lala, yang merupakan istri seorang terdakwa yang ada di Rutan Sambas bernama Sadad,” jelasnya.

Sadad saat itu menjadi terdakwa dalam kasus penipuan agen motor, sekitar Rp500 juta.
Gery memerintahkan kepada Pera untuk berbohong kepada Lala, dengan mengatakan kepada Lala bahwa tuntutan terhadap suaminya dapat diringankan dari 8 bulan menjadi 5 bulan.

“Bahkan diupayakan menjadi 4 bulan, apabila menyerahkan uang untuk Kasi Pidum sebesar Rp17 juta melalui perantara Pera. Dan Mimi menjanjikan akan memberi Pera uang dari hasil pekerjaannya, sebesar Rp2 juta,” terangnya.

Selanjutnya pada Selasa (28/11) sekitar pukul 17.26 WIB, Gery menelpon Pera dengan tujuan untuk kembali mengingatkan terdakwa cara-cara yang ia ajarkan, dengan tetap mengaku sebagai Asisten Ibu Susan, Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Sambas dan meminta uang sebesar Rp17 juta.

Sambil menerima telepon tersebut, Pera mencatat arahan dari Gery di kertas kecil.
Gery kemudian mengatakan akan menelpon Lala, istri Sadad dengan cara sambungan panggilan telepon paralel.

“Pera kemudian berbicara dengan Lala, dengan mengaku sebagai Nurmala, selaku asisten ibu Susan, Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Sambas. Dan mengatakan tuntutan terhadap suami Lala, dapat diringankan dari 8 bulan menjadi 5 bulan, atau bahkan diupayakan menjadi 4 bulan, apabila Lala menyerahkan uang sebesar Rp17 juta untuk Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Sambas melalui dirinya, karena ibu Susan sibuk,” paparnya.

Gery kemudian memutuskan panggilan telepon tersebut. Kemudian Gery kembali menghubungi Pera dan Lala dengan panggilan konferensi.

Pera dan Lala kembali berbicara, dan membuat janji bertemu di depan Kejaksaan Negeri Sambas, pada Rabu (29/11) saat jam istirahat, sekitar pukul 12.30 WIB.

“Keesokan harinya, Rabu (29/11) sekitar pukul 08.30 WIB, Mimi datang ke rumah Pera. Kemudian sekitar sejam kemudian, Pera dan Mimi menggunakan sepeda motor Honda Beat warna putih hitam KB 6267 WY berangkat ke Sambas dan mendatangi Gery di Rutan Sambas,” ujarnya.

Ketika Pera berada di aula besuk, Gery kemudian menuju ke arah Pera dan menyuruh Pera seorang diri keluar dari aula besuk. Karena di aula besuk, Lala yang dijadikan sebagai target akan datang.

Sekitar pukul 11.30 WIB, Pera dan Mimi mampir di warung di dekat Rutan. Beberapa menit kemudian Gery menghubungi Mimi. Pera tidak mengetahui apa yang dibahas. Gery meminta Pera untuk berbicara di hp milik Mimi dan mengatakan bahwa Lala sudah keluar Rutan, dan pertemuan diganti, yang semula di depan Kejaksaan Negeri Sambas menjadi di dekat RS Elisabet Sambas,” jelasnya.

Tak hanya itu saja, Gery juga berpesan agar sebelum berangkat, Pera terlebih dahulu menggunakan celana kain warna abu-abu.

“Celana kain ini memang sebelumnya sudah di bawa Pera untuk menambah penampilannya, guna meyakinkan Lala, istri Sadad,” terangnya.

Sejak saat itu, hp Samsung warna putih milik Mimi, ada ditangan Pera untuk digunakan Pera berkomunikasi dengan Gery.

Selanjutnya Pera dan Mimi, berangkat menuju RS Elisabet Sambas. Namun kemudian, Gery mengabarkan bahwa tidak jadi bertemu di depan RS Elisabet Sambas, melainkan di Rumah Makan Bundo Kanduang Sambas.

“Dan Gery mengatakan, agar Mimi tidak perlu ikut ke rumah makan tersebut. Pada saat itu, Gery ada mengirimkan sms dari Lala ke hp milik Mimi yang dipegang Pera. Dengan isi sms ‘Bu kita ketemu di rumah makan padang bundo kanduang. Depan hotel pantura’. Pera dan Mimi kemudian langsung mengarah ke rumah makan bundo kanduang,” paparnya.

Namun keduanya sempat berhenti di depan Alfamart yang berada tepat di sebelah kiri Hotel Pantura Sambas. Mimi kemudian memutuskan menunggu di Alfamart.

“Sekitar pukul 13.00 WIB, Gery menelpon Pera melalui hp milik Mimi. Mengabarkan bahwa Lala menggunakan jilbab biru dan badannya agak kecil,” ujarnya.

Kemudian, Lala yang mengenakan jilbab biru, duduk bersebelahan dan pesan makanan.
Lalu Gery mengirimkan sms ke hp yang dipegang Pera, isi smsnya ‘kak long makan udah di dalam sie, padahkan dak bise lama jam istirahat gaye, pokoknye padahkan tuntutan 8 bulan, putusan 5 bulan udah pasti, diusahakan 4 bulan gaye’, kemudian Pera sampaikan kepada Lala.

“Sekitar pukul 13.26 WIB, Gery mengirim sms dengan isi sms ‘kak long ku telpon, kak long jawab ya bu, ya bu, gaye i..’. Lalu Gery mengatakan pada Pera, untuk tidak banyak bicara, cukup masalah uang tersebut dan terdakwa hanya menjawab ya buk, ya buk sesuai dengan sms yang diperintahkannya,” urainya.

Sambil makan, Pera kembali membicarakan kepada Lala, (Istri Sadad), bahwa dia (Pera) adalah Nurmala, asisten Ibu Susan, Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Sambas. Dan tuntutan suaminya, dapat diringankan dari 8 bulan menjadi 5 bulan, bahkan diupayakan menjadi 4 bulan, apabila menyerahkan uang Rp17 juta untuk Kasi Pidum Kejari Sambas, melalui perantara dirinya, karena Ibu Susan sibuk dan tidak bisa bertemu.

“Lala mengatakan tidak sanggup membayar sebesar Rp17 juta, dan meminta nego lagi, sambil memperlihatkan dompetnya yang di buka. Saat itulah datang personel Polres Sambas, mendekati Pera dan Lala dan menanyakan identitas Pera,” ungkapnya.

Selanjutnya, Pera bersama barang bukti satu unit sepeda motor Honda Beat dengan pelat nomor KB 6267 WY, satu unit handphone Nokia C3-00, satu unit handphone Samsung GT-E1272, satu lembar potongan kertas bungkus rokok bertuliskan kata-kata, satu buah pulpen merk Tizo TB-SG09 dibawa ke Polres Sambas untuk diproses lebih lanjut.
Dari pemeriksaan penyidik Polres Sambas, diketahui bahwa Pera sehari-hari hanyalah bekerja sebagai ibu rumah tangga.

Wanita lulusan SMA ini, mulai ditahan oleh penyidik Polres Sambas di Rutan Sambas, sejak 30 November 2017 sampai dengan 19 Desember 2017. Setelah dilimpahkan ke Kejari Sambas, hingga kini ia masih ditahan di Rutan Sambas.

Atas perbuatannya ini, Pera diancam pidana menurut Pasal 378 Juncto Pasal 55 ayat (1) Ke-1 Juncto Pasal 53 ayat (1) KUHP.

(Gindra/Faisal)

TIDAK ADA KOMENTAR